RSS
Showing posts with label Karangasem Regency Tourism. Show all posts
Showing posts with label Karangasem Regency Tourism. Show all posts

Agrowisata Salak Sibetan

Hallo Good Travelers!!
Kali ini saya akan sedikit berbagi mengenai sebuah agrowisata yang ada di kawasan Bali timur. Well guys, Bali ternyata tidak hanya mimiliki panorama alam berupa pantai atau gunung, kekhasan budaya dan adat istiadat, tapi juga komoditas lokal yang kini dikemas dengan lebih apik dan menjadi daya tarik tersendiri di Bali.

Yupz, Agrowisata. Belakangan memang banyak berkembang agrowisata di Bali, terutama kopi Luwak. Agrowisata ini banyak terdapat di daerah perbatasan Kabupaten Gianyar dengan Kabupaten Bangli, tepatnya di jalan menuju Kintamani, baik dari arah Tampaksiring, maupun dari arah Ceking (Tegalalalang). Selain kopi Luwak, agrowisata biasanya juga menawarkan berbagai komoditas pertanian lokal, seperti vanili, kayu manis, dan berbagai jenis rampah – rempah lokal. Selain itu ada juga agrowisata yang menawarkan kegiatan petik jeruk, petik strawberry dan lain-lain.

Tapi pernahkah anda mendengar agrowisata yang menawarkan “petik salak” dan juga berbagai olahan salak?

Desa Sibetan, sebuah desa yang terletak di Kabupaten Karangasem dengan jarak tempuh sekitar 2 jam dari Denpasar. Desa ini terletak di daerah perbukitan yang membuatnya memiliki udara yang sejuk. Jalan akses menuju desa inipun terbilang cukup baik. Mayoritas masyarakat Desa Sibetan bermatapencaharian sebagai petani salak. Hasil pertanian masyarakat Desa Sibetan memang sudah tersohor di Bali dengan nama Salak Sibetan.


Lalu apa yang menarik dari perkebunan salak yang pohonnya penuh dengan duri?

Salak yang selama ini hanya dikenal sebagai Salak Sibetan ternyata bukanlah salak biasa. Pasalnya terdapat 12 jenis salak yang tumbuh di desa tersebut. Melalui tangan seorang pria asal Sibetan yang prihatin terhadap masa depan komoditi khas desanya itu, Salak Sibetan mulai dekemas dengan cara yang lebih menarik.


Bapak Kongking, begitulah sapaan akrab pria yang  kini merintis sebuah wisata agro dengan nama Agrowisata Abian Salak Sibetan. Melalui tangan kreatifnya, perkebunan salak dengan luas sekitar 1 Ha yang ditumbuhi berbagai jenis pohon salak yang penuh duri, ditata dengan sedemikian rupa sehingga aman untuk dikunjungi oleh wisatawan. Tidak hanya membangun sebuah agrowisata, ia juga mencoba berbagai inovasi olahan dengan bahan utama salak sibetan itu sendiri.


Hasilnya?

Begitu memuaskan. Salak yang selama ini hanya dikonsumsi daging buahnya saja, di tangan pak Kongking tidak ada satu bagianpun yang terbuang. Mulai dari kulit, daging buah, biji salak, hingga daunnya, semua bisa diolah. Jika kita mengenal kulit manggis memiliki antioksidan tinggi, salakpun tidak mau kalah.  Berdasarkan hasil penelitian, kandungan antioksidan yang terdapat pada salak juga terhitung tinggi.

Berbagai produk telah dihasilkan dari olahan Salak Sibetan, seperti : wine salak, dodol salak, kurma salak, madu salak, kripik salak, manisan salak, teh salak, kopi salak, dll. Namun sayangnya, saat ini pengambangan olahan salak tersebut belum bisa optimal. Hal ini karena pendanaan yang terbatas dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap usaha masyarakat lokal tersebut. Saat ini, Pak Kongking yang dibantu beberapa mahasiswa UNDIKSHA, sedang mencoba mengembangkan website dan pemasaran.

Selain salak, Desa Sibetan juga memiliki panorama alam yang indah dan udara yang sejuk dengan penduduknya yang begitu ramah. Dari agrowisata ini pengunjung dapat menikmati indahnya panorama pegunungan di kejauhan. Selain itu, mereka juga menyiapkan tempat untuk berkemah, penginapan dan sebuah rumah makan.


Kedepannya, mereka berkeinginan mengembangkan pengolahan salak tersebut sehingga wisatawan juga dapat merasakan langsung membuat oalah berbahan dasar salak. Mereka berharap perhatian dari pemerintah dan berbagai universitas agar dapat membantu pengembangan pariwisata di Desa Sibetan.

Want to know more?
Visit : Agrowisata Abian Salak Sibetan  (Dsn. Karanganyar, Sibetan, Karangasem – Bali)
CP: Pak Kongking : 081936578069 / 085646934325
http://www.visitsibetan.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS


Tenganan Pegringsingan


     Terletak di antara perbukitan sekitar 76 Km dari Denpasar, tepatnya di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Tenganan Pegringsingan merupakan sebuah desa wisata yang masih mempertahankan keaslian budayanya. Meskipun Bali telah mengalami modernisasi dan sudah begitu banyak budaya asing yang masuk, Desa Tenganan Pegringsingan masih tetap bertahan dengan kesederhanaannya. Masyarakat desa tersebut merupakan masyarakat Bali Asli atau Bali Aga. Berbeda dengan masyarakat Hindu Bali pada umumnya yang merupakan keturunan dari Kerjaan Majapahit.

     Masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan masih tetap memegang teguh tradisi dan hukum adat (awig – awig)nya. Dengan cara itulah mereka masih bisa tetap bertahan dengan kesederhanaannya di tengah modernisasi yang telah melanda daerah – daerah di sekitarnya. Aktivitas masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan merupakan daya tarik utama bagi wisatawan yang berkunjung ke desa tersebut. Kegiatan yang biasa mereka lakukan seperti membuat kain tenun ikat Gringsing yang merupakan kain khas Desa Tenganan. Selain itu, beberapa di antranya juga membuat lukisan yang dilukis pada daun lontar, lukisan telur dan pembuat topeng.


     Desa Tenganan Pegringsingan juga sangat terkenal dengan tradisinya yaitu Mekare – Kare atau yang juga dikenal dengan perang pandan. Tradisi ini merupakan tradisi tahunan yang dilaksakan setiap Purnama Sasih Kelima (Hari Purnama pada bulan ke lima tahun Caka), yang jatuh sekitar bulan November. Dengan senjata seikat pandan berduri dan pelindung sebuah tameng, peserta perang pandan akan mendekati lawan berusaha memeluk dan menggosokkan pandan berduri tersebut ke punggung lawan. Meskipun kulit smapai terluka, namun tidak ada rasa marah ataupun dendam dalam menjalankan tradisi tersebut. Setelah prosesi perang pandan usai, seluruh peserta akan diajak makan bersama atau yang juga disebut Megibung.


     Meskipun pariwisata sudah berkembang di Desa Tenganan Pegringsingan, namun penataan fisik desa tersebut masih tetap dipertahankan sesuai dengan hukum adat yang berlaku. Tidak ada penambahan fasilitas pariwisata apapun kecuali toilet umum. Untuk fasilitas pariwisata seperti akomodasi dan restaurant, maka lokasi yang paling dekat dari desa tersebut terletak di Kawasan Candi Dasa. Bahkan jika ingin menginap di desa tersebut, tidaklah mudah. Jika ingin menginap di desa tersebut, harus memiliki kerabat yang merupakan penduduk asli Desa Tenganan Pegringsingan itupun harus melapor pada aparat desa.

     Struktur pembagian tata ruang desa mengikuti konsep Tapak Dara yakni pertemuan antara arah angin kaja-kelod (utara-selatan) yang merupakan simbol segara-gunung (laut-gunung) dan arah matahari kangin-kauh (timur-barat). Pertemuan kedua arah itu dipersepsikan sebagai perputaran nemu gelang (seperti lingkaran) dengan porosnya berada di tengah-tengah. Orang Desa Tenganan Pegringsingan mengenalnya dengan istilah maulu ke tengah atau berorientasi ke tengah-tengah yang menyimpan makna mencapai keseimbangan melalui penyatuan bhuwana alit (manusia dan pekarangan manusia) dengan bhuwana agung (pekarangan desa). Selain konsep Tapak Dara, Desa Tenganan Pegringsingan juga menyimpan konsep tata runag yang unik lainnya. Perkampungan dikelilingi tembok seperti benteng pertahanan. Lawangan atau pintu masuk desa berada di keempat penjuru. Orang Desa Tenganan Pegringsingan menyebut konsep tata ruang dari desanya itu sebagai konsep Jaga Satru (berjaga dari serangan musuh).


     Bila kita lihat dari sisi marketing, Desa Tenganan Pegringsingan merupakan sebuah desatinasi wisata yang menerapkan konsep product oriented. Dimana wisatawan yang mengunjungi desa tersebut karena keunikan yang dimilikinya. Desa Tenganan Pegringsingan sama sekali tidak melakukan aktivitas promosi ataupun segmentasi pasar. Melainkan pengunjunglah yang secara tidak langsung membantu kegiatan promosi tersebut. Bahkan untuk memasuki desa tersebut, wisatawan tidak dimintai sejumlah nominal tertentu melainkan hanya sumbangan suka rela saja.

     Jadi bagi anda yang ingin merasakan atmosphere kehidupan Bali tahun 1980 an, silakan mengunjungi  Desa tradisional Tenganan Pegringsingan J

Sukariyanto
Photos by google

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kabupaten Karangasem


Agro Wisata Sibetan
Sibetan adalah nama sebuah desa di Kecamatan Bebandem yang memiliki potensi alam pertanian khas di Kabupaten Karangasem yang terkenal dengan tanaman salak. Hampir seluruh penduduk di desa ini menjadi petani salak yang tersebar merata di sisi kanan dan kiri sepanjang jalan desa dan jalan raya utama.
Buah salak yang dihasilkan oleh desa ini sangat terkenal sebagai salak Bali yang memiliki citarasa tersendiri dan berbeda dari buah sejenis dari daerah lain di Indonesia. Oleh karena itulah maka desa ini dikembangkan sebagai obyek agrowisata tanaman salak.
Untuk menuju lokasi agrowisata ini aksesnya sangat terbuka karena jalurnya dilintasi oleh kendaraan umum angkutan kota. Jaraknya sekitar 8 km ke arah barat dari Kota Amlapura – ibukota kabupaten – dan ±20 km dari obyek wisata Candidasa. Hawa yang sejuk memberikan nilai tambah bagi keberadaan obyek ini dimana pengelolaannya dilakukan oleh warga setempat yang tergabung dalam kelompok sadar wisata Dukuh Lestari.
Terdapat ±15 jenis varietas salak yang tumbuh di Desa Sibetan, beberapa di antaranya merupakan produk unggul, seperti salak nenas dan salak gula pasir yang rasanya sangat manis, segar serta daging buah yang tebal. dan dengan. Masa panen raya yang jatuh pada Bulan Desember– Pebruari membuat produksi salak melimpah sehingga masyarakat setempat mengembangkan produk olahan buah salak menjadi beraneka ragam jenis, seperti wine, dodol, kripik, syrup, dan manisan. Obyek agrowisata ini banyak dikunjungi dan mendapat perhatian dari para peneliti dan mahasiswa.


Candidasa
Candidasa merupakan salah satu kawasan pariwisata yang dikembangkan mulai tahun 1983. Pada mulanya nama Candidasa merupakan nama sebuah pura, yaitu Pura Candidasa, yang terltak di atas bukit kecil dan dibangun pada abad ke-12 M. Memiliki potensi alam dan pantai yang mempesona dengan pasir putihnya.
Pantai berpasir putih tersebut sebenarnya bernama Teluk Kehen, namun dalam perkembangannya seiring ditetapkannya pantai tersebut menjadi obyek dan daya tarik wisata, maka pantai Teluk Kehen berubah nama menjadi kawasan pariwisata Candidasa sesuai dengan nama pura yang ada di wilayah itu.
Candidasa terletak di Dusun Samuh, Desa Bugbug, Kecamatan Karangasem, berjarak 12 km dari Kota Amlapura dan sekitar 45 km dari KotaDenpasar. Pesona alam yang dikembangkan sebagai obyek wisata bahari inidapat menjadi pilihan untuk melakukan berbagai aktifitas, seperti sun bathing, canoing, snorekling,fishing, trekking melalui perbukitan, dan yang tak kalah menariknya adalah keberadaan pulau-pulau kecil yang dapat dijangkau jaraknya dengan perahu nelayan (jukung).Pulau-pulau kecil tersebut menyimpan potensi panorama bawah laut berupa terumbu karang dan ikan hias.
Salah satu cerita yang menjadi mitos tentang keberadaan Pura Candidasa yang berkembang dan diyakini oleh masyarakat setempat adalah Arca Dewi Hariti yang terletak pada sebuah relung di bagian bawah tebing bukit. Konon dikisahkan bahwa Dewi Hariti pada mulanya adalah seorang yaksa dalam Agama Budha yang gemar memakan daging anak-anak. Namun setelah mendapat pencerahan ajaran Agama Budha, Sang Dewi kemudian bertobat dan berbalik menjadi pelindung dan penyayang anak-anak.
Arca Dewi Hariti selanjutnya dipahatkan bersama 10 orang anak-anak yang mengerubutinya, sebagai ciri pelindung, penyayang, dan juga sebagai perlambang kesuburan dan kemakmuran. Masyarakat setempat meyakini bahwa Dewi Hariti berarti ibu beranak banyak yang dapat memberikan anugerah kesuburan dan kemakmuran. Oleh karenanya maka tempat ini banyak didatangi dan dimanfaatkan oleh pasangan suami – isteri yang belum dikaruniai keturunan untuk memohon do’a dengan membawa sesajen yang dipersembahkan kepada Dewi Hariti.



Desa Iseh
Iseh adalah salah satu desa yang merupakan bagian dari Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem. Iseh berkembang sebagai obyek dan daya tarik wisata karena memiliki keindahan alam yang mempesona. Berjarak sekitar 42 km dari Kota Denpasar, akses menuju Iseh dapat dicapai dengan kendaraan umum melalui jurusan Desa Satria, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung.
Keindahan alam yang menjadi daya tarik dengan latar belakang kehidupan alam pedesaan yang penuh ketenangan dan kedamaian banyak menarik minat wisatawan untuk tinggal lebih lama. Hamparan petak-petak sawah yang bertingkat dengan aktifitas para petani tradisional, sungai yang berkelok, serta panorama Gunung Agung yang nampak di kejauhan merupakan satu kesatuan dari keindahan alam yang mempesona.
Selain panorama alam, Iseh juga menarik untuk dimanfaatkan sebagai wisata trekking. Di tempat ini pula bisa didapatkan kain tenun endek dan songket khas Karangasem yang diproses dengan alat tenun tradisional ( ATBM ).
Iseh terkenal sejak zaman penjajahan. Pelukis terkenal dunia, Walter Spies ( 1895–1942 ) pernah tinggal dan membangun gubuk kecil sebagai studio tempatnya melukis. Di tempat ini banyak dihasilkan lukisan-lukisan terbaiknya. Di samping melukis, Walter Spies juga tertarik empelajari gamelan, bahkan dia menjadi penyokong 2 sekeha ( kelompok ) gamelan sebagai bentuk eratnya interaksi dengan masyarakat setempat. Namun sayang, Walter Spies akhirnya menjadi korban ketika pesawat pembom Jepang menenggelamkan kapal yang ditumpanginya dalam pengungsian ke India pada tahun 1942. Bali telah kehilangan salah seorang sahabat terbaiknya. Pelukis terkenal lainnya yang kemudian muncul adalah Theo Meier, seorang warga negara Swiss pada tanggal 31 Maret 1908. Desa Iseh dengan latar belakang Gunung Agung, kehidupan masyarakat dan adat istiadat setempat menjadi inspirasi obyek lukisannya. Kedua pelukis terkenal itu sangat besar jasanya dalam memperkenalkan keindahan alam Desa Iseh.



Desa Tenganan
Desa Tenganan atau dikenal dengan Tenganan Pegeringsingan, merupakan salah satu dari sejumlah desa kuno di Pulau Bali. Pola kehidupan masyarakatnya mencerminkan kebudayaan dan adat istiadat desa Bali Aga (pra Hindu) yang berbeda dari desa-desa lain di Bali. Karenanya Desa Tenganan dikembangkan sebagai salah satu obyek dan daya tarik wisata budaya.
Lokasi Desa Tenganan Pegeringsingan terletak di Kecamatan Manggis, sekitar 17 km jaraknya dari Kota Amlapura, 5 km dari kawasan pariwisata Candidasa, dan sekitar 65 km dari Kota Denpasar.
Sebagai obyek wisata budaya, Desa Tenganan memiliki banyak keunikan dan kekhasan yang menarik untuk dilihat dan dipahami. Dari sistem kemasyarakatan yang dikembangkan, bahwa masyarakat Desa Tenganan terdiri dari penduduk asli desa setempat. Hal ini disebabkan karena sistem perkawinan yang dianut adalah sistem parental dimana perempuan dan laki-laki dalam keluarga memiliki derajat yang sama dan berhak menjadi ahli waris.
Hal ini berbeda dengan sistem kekeluargaan yang dianut oleh masyarakat di Bali pada umumnya.Di samping itu, mereka juga menganut sistem endogamy dimana masyarakat setempat terikat dalam awig-awig (hukum adat) yang mengharuskan pernikahan dilakukan dengan sesama warga Desa Tenganan, karena apabila dilanggar maka warga tersebut tidak diperbolehkan menjadi krama (warga) desa, artinya bahwa ia harus keluar dari Desa Tenganan.
Daya tarik lain yang dimiliki Desa Tenganan adalah tradisi ritual Mekaré-karé atau yang lebih dikenal dengan “perang pandan”. Mekaré-karé merupakan bagian puncak dari prosesi rangkaian upacara Ngusaba Sambah yang digelar pada setiap Bulan Juni yang berlangsung selama 30 hari.
Selama 1 bulan itu, Mekaré-karé berlangsung sebanyak 2-4 kali dan setiap kali digelar akan dihaturkan sesajen kepada para leluhur. Mekaré-karé atau “perang pandan” diikuti para lelaki dari usia anak-anak sampai orang-orang tua. Sesuai namanya, maka sarana yang dipergunakan adalah daun pandan yang dipotong-potong sepanjang ±30 cm sebagai senjata dan tameng yang berfungsi untuk menangkis serangan lawan dari geretan duri pandan. Luka yang diakibatkan oleh geretan duri pandan akan dibalur dengan penawar yang dibuat dari ramuan umbi-umbian, seperti laos, kunyit, dan lain-lain.
Mekaré-karé pada hakekatnya sama maknanya dengan upacara tabuh rah yang lazim dilakukan oleh umat Hindu di Bali ketika melangsungkan upacara keagamaan. Dalam upacara Mekaré-karé selalu diiringi dengan tetabuhan khas Desa Tenganan, yaitu gamelan selonding.



Keunikan lain yang dimiliki oleh Desa Tenganan yang tidak dimiliki oleh daerah lainya di Bali bahkan di Indonesia adalah kerajinan tenun double ikat kain Gringsing. Kata Gringsing itu sendiri berasal dari kata “gering” yang berarti sakit atau musibah, dan “sing” yang artinya tidak, maka secara keseluruhan gringsing diartikan sebagai penolak bala.
Proses pembuatan kain gringsing sangatlah unik dan memerlukan waktu yang lama (sampai 3 tahun), sehingga keberadaannya menjadi langka dan harganya cukup mahal.
Kain gringsing wajib dimiliki oleh warga Desa Tenganan karena merupakan bagian dari perlengkapn upacara, seperti dalam upacara ngaben (pembakaran jenazah) dimana kain gringsing ditempatkan pada pucuk badé (tempat mengusung mayat). Selain itu pada upacara potong gigi, gringsing dipergunakan pula sebagai alas bantal. Banyak cerita di masyarakat yang menyebutkan bahwa darah manusia digunakan dalam pemberian warna pada benang unuk memperoleh warna yang diinginkan. Hal ini disebabkan karena kain gringsing memang didominasi oleh warna merah. Namun yang sebenarnya adalah bahwa bahan-bahan pewarna dalam pembuatan kain gringsing berasal dari getah-getah kayu tertentu dan biji kemiri yang diramu sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai pewarna.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa keindahan alam Desa Tenganan berpotensi sebagai wisata alternatif jalur trekking dengan melewati jalan desa, perbukitan, dan juga hamparan sawah penduduk. Rute pendek jalur trekking ini dapat ditempuh dalam waktu ±3-4 jam.

Jemeluk - Amed
Jemeluk – Amed berkembang sebagai salah satuobyek wisata bahari dan merupakan primadona bagi wisatawan mancanegara dan nusantara. Terletak di Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, berjarak sekitar 19 km dari Kota Amlapura – ibukota kabupaten –, 12 km dari Tulamben, 33 km dari obyek wisata Candidasa, dan ±78 km dari Kota Denpasar. Obyek wisata ini termasuk dalam pengembangan kawasan pariwisata Tulamben.
Daya tarik utama obyek wisata ini adalah panorama alam bawah laut yang menyimpan potensi keindahan terumbu karang dengan beraneka ragam jenis ikan hias. Keberadaan terumbu karang yang masih asli tetap diupayakan pelestariannya dengan kehidupan nelayan dan aktifitas pembuatan garam tradisional oleh masyarakat setempat juga menjadi daya tarik tersendiri.
Dari obyek wisata Amed kita dapat mencapai obyek wisata Taman Soekasada Ujung dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam lamanya melalui jalur lintas timur dengan melewati bibir tebing ujung timur Pulau Bali yang memiliki pemandangan eksotis di sepanjang perjalanan. Pemandangan laut lepas dengan jejeran puluhan perahu atau jukung nelayanmenjadi daya tarik yang tidak akan terlupakan dengan paduan panorama perbukitan. Di tempat ini banyak dibangun villa dan akomodasi hotel serta penginapan lainnya yang menawarkan fasilitas beragam.




Pelabuhan Padangbai
Padangbai dikembangkan sebagai obyek wisata alam dan budaya barada dalam satu kawasan pengembangan pariwisata Candidasa, terletak di Desa Padangbai, Kecamatan Manggis – Karangasem. Jaraknya sekitar 25 km dari Kota Amlapura, 13 km dari obyek wisata Candidasa, dan sekitar 31 km dari Kota Denpasar.
Di tempat ini terdapat pelabuhan yang menjadi akses transportasi laut ke Pulau Lombok – NTB. Nama Padangbai mendapat pengaruh dari Bahasa Belanda sebagai akibat dari adanya masa penjajahan yang sebelumnya bernama Teluk Padang. Lokasi ini merupakan sebuah teluk berpasir putih yang letaknya terlindung dari batu karang hitam yang kokoh. Karena lokasinya, maka kehidupan alam bawah lautnya terpelihara dengan baik.
Daya tarik yang dimiliki obyek wisata Padangbai di antaranya adalah pantai berpasir putih bersih dan tebal sehingga dapat dimanfaatkan sebagai tempat berjemur sinar matahari (sun bathing) atau berenang di laut. Keindahan panorama alam bawah lautnya sangat baik untuk diving dan snorekling karena menyimpan berbagai jenis terumbu karang dan ikan-ikan hias yang sangat indah. Di tempat ini juga terdapat blue lagoon yang eksotis dan selalu menjadi incaran para wisatawan penyelam (divers).


Sebagai obyek wisata budaya, di Padangbai terdapat kompleks Pura Dang Kahyangan (pura milik umat Hindu secara keseluruhan). Di sebelah timur pantai Padangbai terdapat Pura Silayukti, yang didirikan oleh Empu Kuturan sekitar abad XI dalam perjalanan sucinya ke Bali. Empu Kuturan adalah seorang pendeta yang sangat besar jasanya dalam mengatur tata keagamaan Hindu di Bali, dimana ajarannya tetap ditaati dan dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali sampai sekarang. Di sebelah selatan Pura Silayukti terdapat Pura Tanjung Sari yang dibangun oleh Empu Bharadah, adik bungsu dari Empu Kuturan. Dan di sebelah barat pelabuhan Padangbai terdapat Pura Penataran Agung yang didirikan pada abad XVI oleh Dang Hyang Dwijendra yang terkenal pula dengan sebutan Pedanda Sakti Wawu Rawuh, keturunan dari Empu Kuturan.

Pura Besakih
Pura Besakih terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, berada di lereng sebelah barat daya Gunung Agung yang merupakan gunung tertinggi di Bali. Akses dari Kota Denpasar untuk mencapai tempat ini berjarak sekitar 25 km ke arah utara dari Kota Semarapura – Kabupaten Klungkung.
Perjalanan menuju Pura Besakih melewati panorama Bukit Jambul yang juga merupakan salah satu obyek dan daya tarik wisata Kabupaten Karangasem.
Letak Pura Besakih sengaja dipilih di desa yang dianggap suci karena letaknya yang tinggi, yang disebut Hulundang Basukih yang kemudian menjadi Desa Besakih. Nama Besakih diambildari Bahasa Sansekerta, wasuki atau dalam bahasa Jawa Kuno basuki yang berarti selamat. Selain itu, nama Pura Besakih didasari pula oleh mithologi Naga Basuki sebagai penyeimbang Gunung Mandara.
Banyaknya peninggalan zaman megalitik, seperti menhir, tahta batu, struktur teras pyramid yang ditemukan di kompleks Pura Besakih menunjukkan bahwa sebagai tempat yang disucikan nampaknya Besakih berasal dari zaman yang sangat tua, jauh sebelum adanya pengaruh Agama Hindu.
Kompleks Pura Besakih dibangun berdasarkan keseimbangan alam dalam konsep Tri Hita Karana, dimana penataannya disesuaikan berdasarkan arah mata angin agar struktur bangunannya dapat mewakili alam sebagai simbolisme adanya keseimbangan tersebut. Masing-masing-masing-masing arah mata angin disebut mandala dengan dewa penguasa yang disebut “Dewa Catur Lokapala” dimana mandala tengah sebagai porosnya, sehingga kelima mandala dimanifestasikan menjadi “Panca Dewata”.
Penjabaran struktur bangunan Pura Besakih berdasarkan konsep arah mata angin tersebut, adalah :
1. Pura Penataran Agung Besakih sebagai pusat mandala di arah Tengah dan merupakan pura terbesar dari    kelompok pura yang ada, yang ditujukan untuk memuja Dewa Çiwa;
2. Pura Gelap pada arah Timur untuk memuja Dewa Içwara;
3. Pura Kiduling Kereteg pada arah Selatan untuk memuja Dewa Brahma;
4. Pura Ulun Kulkul pada arah Barat untuk memuja Dewa Mahadewa;
5. Pura Batumadeg pada arah Utara untuk memuja Dewa Wisnu.



Puri Agung Karangasem
Puri Agung Karangasem terletak di pusat Kota Amlapura – ibukota kabupaten – jaraknya sekitar 65 km dari Kota Denpasar, 12 km dari kawasan pariwisata Candidasa, 5 km ke Taman Soekasada Ujung, dan sekitar 6 km ke obyek wisata Taman Tirtagangga. Dibangun pada abad ke-19 M oleh Anak Agung Gede Jelantik, Raja Karangasem I. Selain Puri Agung, terdapat 2 (dua) buah puri lain dalam areal kerajaan yang memiliki keterkaitan erat dengan Puri Agung, yaitu Puri Gede dan Puri Kertasura. Daya tarik utama Puri Agung adalah kemegahan arsitektur bangunannya yang merupakan perpaduan antara arsitektur Bali, China, dan Eropa. Puri Agung terdiri dari 3 (tiga) bagian areal. Bagian depan atau entrance disebut “bencingah”, tempat dimana diadakan pertunjukan kesenian tradisional, sedangkan sisi di sebelah kanan dan kiri diperuntukkan sebagai tempat menerima tamu.
Bagian tengah disebut “jaba tengah” yang dimanfaatkan sebagai kebun, dimana di tempat ini terdapat 2 buah pohon lychee yang sudah sangat tua. Dan bagian dalam areal berfungsi sebagai tempat bangunan utama yang disebut “maskerdam” yang mengadaptasi nama Kota Amsterdam di Belanda, karena pembangunannya dilakukan ketika Raja Karangasem menjalin hubungan persahabatan dengan pemerintah kerajaan Belanda. Bangunan ini dipergunakan sebagai istana raja. Bangunan lain di belakang maskerdam disebut “london” dipergunakan sebagai tempat tinggal keluarga raja. Pemberian nama demikian didasarkan karena Kota London di Inggris berdekatan dengan Kota Amsterdam di Belanda, maka nama-nama itupun diadaptasi ke dalam bangunan puri.
Di depan Istana Maskerdam terdapat “Bale Pemandesan” yang berfungsi sebagai tempat upacara potong gigi atau juga sebagai tempat penyimpanan sementara jenazah para keluarga puri hingga saatnya upacara pelebon (ngaben) dilaksanakan. 
Di dekat bangunan ini menghadap ke kolam terdapat patung singa bersayap yang besar. Di depan Bale Pemandesan terdapat “Bale Pawedaan” atau “Bale Lunjuk” sebagai tempat dimana para pendeta melakukan pemujaan dan persembahyangan bila upacara keagamaan berlangsung. Ada juga “Bale Kambang” atau Gili di tengah-tengah kolam yang berfungsi sebagai tempat pertemuan keluarga besar puri atau dipergunakan juga sebagai tempat latihan menari dan berkesenian lainnya.


Putung
Putung terletak di Desa Duda Timur, Kecamatan Selat. Jaraknya sekitar 64 km dari Kota Denpasar, ±19 km dari Kota Amlapura – ibukota kabupaten – dan mudah dicapai dengan angkutan umum. Dikembangkan sebagai obyek wisata alam karena letaknya di daerah pegunungan yang dikelilingi oleh perkebunan salak.
Daya tarik utama obyek wisata Putung adalah keindahan alam yang merupakan perpaduan antara panorama perbukitan, lembah, laut, hutan, dan perkebunan salak dengan hawa sejuk menyegarkan. Dari tempat ketinggian dapat dilihat petak-petak sawah milik penduduk di Desa Adat Buitan – Kecamatan Manggis dan Labuhan Amuk dengan lautnya yang membentang luas membiru dengan perahu-perahu ( jukung ) nelayan yang sedang berlayar, kapal pesiar ( cruise ) yang kebetulan datang bersandar, dan dikejauhan Pulau Nusa Penida milik Kabupaten Klungkung nampak jelas terlihat. Obyek wisata Putung berdekatan lokasinya dengan obyek agrowisata salak Sibetan di Kecamatan Bebandem.
Putung menjadi terkenal dengan keindahan panorama alamnya berkat lukisan Mr. Christiano, seorang pelukis asal Italia yang tinggal beberapa lama di Putung dan memperistri seorang wanita Karangasem dari Desa Manggis.

Taman Ujung
Taman Soekasada Ujung merupakan situs kerajaan, terletak dekat pantai di Desa Tumubu, Kecamatan Karangasem yang dikembangkan sebagai salah satu kawasan pariwisata Kabupaten Karangasem. Jaraknya ±5 km dari Kota Amlapura – ibu kota kabupaten – ke arah selatan, ±15 km dari kawasan pariwisata Candidasa, dan kira-kira 60 km jaraknya dari Kota Denpasar.
Taman Soekasada Ujung dibangun pada tahun 1919 pada masa pemerintahan Raja I Gusti Bagus Jelantik (1909 – 1945) yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1921. Taman ini dipergunakan sebagai tempat peristirahatan raja selain Taman Tirtagangga, dan juga diperuntukkan sebagai tempat menjamu tamu-tamu penting seperti raja-raja atau kepala pemerintahan asing yang berkunjung ke kerajaan Karangasem.
Dalam areal Taman Soekasada Ujungterdapat beberapa bangunan jugakolam besar dan luas. Ada3 (tiga) buah pintu masuk atau gerbang menuju areal taman. Gerbang utamaberada pada ketinggian di sisi barat sebagai entrance yang disebut “BaleKapal” karena dulunya bangunan ini dibuat menyerupai sebuah kapal.Selanjutnya dari entrance baleini pengunjung menuju areal taman dengan menuruni ratusan buah anak tangga.Dari tempat inilah keseluruhan areal taman dapat dinikmati.
Taman Soekasada Ujung dikembangkan seagai obyek wisata budaya karena kemegahan dan kekhasan bangunan yang merupakan perpaduan antara arsitektur Bali dan Eropa. Kondisinya yang rusak berat akibat letusan Gunung Agung – gunung terbesar di Bali – pada tahun 1963 semakin diperparah lagi dengan terjadinya gempa hebat di tahun 1976 yang meninggalkan puing-puing bangunan, namun tidak meninggalkan kesan megahnya. Untuk mengembalikan kemegahan Taman Soekasada Ujung, maka pada tahun 2001-2003 Pemerintah Kabupaten Karangasem memanfaatkan dana bantuan Bank Dunia membangun kembali Taman Soekasada Ujung dengan tujuan untuk mengembalikan keberadaannya kepada bentuk semula demi melestarikan warisan budaya yang menjadi kebanggaan Karangasem.
Dalam areal Taman Soekasada Ujung terdapat beberapa bangunan juga kolam besar dan luas. Ada 3 (tiga) buah pintu masuk atau gerbang menuju areal taman. Gerbang utama berada pada ketinggian di sisi barat sebagai entrance yang disebut “Bale Kapal” karena dulunya bangunan ini dibuat menyerupai sebuah kapal. Selanjutnya dari entrance bale ini pengunjung menuju areal taman dengan menuruni ratusan buah anak tangga. Dari tempat inilah keseluruhan areal taman dapat dinikmati.
Sesuai predikatnya sebagai Taman Air Kerajaan atau The Water Palace, maka Taman Soekasada Ujung memiliki 3 (tiga) buah kolam besar dan luas. Di tengah kolam I di sisi paling utara terdapat bangunan utama yang disebut “Bale Gili” yang dihubungkan oleh jembatan menuju arah selatan.
Di tengah-tengah kolam ini terdapat patung-patung dan pot-pot bunga. Di sebelah barat kolam I, di tempat yang agak tinggi terdapat bangunan berbentuk bundar, yang disebut “Bale Bunder” yang difungsikan sebagai tempat untuk menikmati keindahan taman dan panorama alam di sekitarnya. Di sebelah barat laut Bale Bunder, pada areal terasering yang tinggi terdapat bangunan persegi empat panjang yang disebut “Bale Lunjuk”. Ada sekitar 107 anak tangga menuju bangunan ini dari arah timur. Di tengah kolam II di sisi selatan kolam I terdapat bangunan yang disebut “Bale Kambang”. Bangunan ini dahulu berfungsi sebagai tempat jamuan makan untuk para tamu kerajaan. Di sebelah timur kolam II terdapat kolam III yang disebut Kolam Dirah dan merupakan kolam pertama yang dibuat oleh Raja Karangasem. Di areal sebelah utara taman, di tempat yang tinggi terdapat patung “warak” (badak) dan juga patung “banteng” yang dari mulut kedua patung tersebut air memancur keluar menuju kolam. Dan sekitar 250m di sebelah utara taman ini tedapat sebuah pura bernama “Pura Manikan” yang juga dibangun oleh Raja Karangasem.




Taman Tirta Gangga
Taman Tirta Gangga merupakan salah satu daya tarik wisata yang terletak di Desa Ababi, Kecamatan Abang. Jaraknya sekitar 5 km ke arah utara dari Kota Amlapura. Dibangun pada tahun 1948 oleh Raja Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem.
Sebelum dibangun, taman ini merupakan areal mata air besar dan masyarakat menyebutnya dengan embukan, artinya mata air. Mata air ini difungsikan oleh pnduduk dari desa-desa sekitarnya sebagai tempat mencari air minum dan tempat pesiraman atau penyucian Ida Betara (para dewa), oleh karena itu mata air itu disakralkan oleh penduduk setempat. Dari mata air inilah kemudian Raja Karangasem mendapat ide untuk membangun sebuah taman terlebih karena alamnya didukung oleh udara yang sejuk, yang kemudian diberi nama Taman Tirtagangga. Sama halnya dengan Tama Soekasada Ujung, maka Tama Tirtagangga memiliki keterikatan kuat dengan Puri Agung Karangasem.
Dalam areal Tama Tirtagangga terdapat beberapa kolam besar yang difungsikan sebagai kolam ikan dan tempat permandian. Air yang mengalir melalui pancuran-pancuran besar dan kecil yang keluar dari mulut patung-patung di kolam ini berasal dari sumber mata air sehingga terasa sejuk dan menyegarkan. Di tempat ini terdapat menara air mancur dan patung teratai bertingkat yang membagi dua buah kolam besar.
Pada masa kini Taman Tirtagangga berfungsi secara religius, sosial, dan juga sebagai hiburan. Secara religius, mata air di tempat tersebut dimanfaatkan sebagai air suci bagi masyarakat sekitarnya di samping sebagai tempat untuk upacara Dewa Yadnya dan Metirtayatra.
Secara sosial, sumber mata air Tirtagangga dimanfaatkan oleh pemerintah daerah sebagai sumber air bersih bagi masyarakat Karangasem. Dan sebagai hiburan, Taman Tirtagangga dikelola dan dikembangkan sebagai salah satu obyek dan daya tarik wisata yang banyak diminati serta dikunjungi sebagai tempat rekreasi.


By : Agus Heriyanta Adikayana
Dari berbagai sumber

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Surga  Bahari  di  Timur  Bali

Tak salah memang bila banyak wisatawan tang berkunjung ke Bali memberikan julukan pulau tersebut sebagai pulau Dewata. Sebagai tempatnya para Dewata, Bali menyuguhkan pemandangan alam yang begitu mempesona. Mulai dari pantai, laut, danau dan pegunungan yang membentang di tengah-tengah pulau tersebut.
Salah satu atraksi wisata yang menarik minat wisatawan adalah wisata tirta atau wisata bahari. Bali memeliki banyak spot diving ataupun snorkeling. Salah satu spot snorkeling yang sangat terkenal di Bali ialah Pantai Jemeluk. Pantai Jemeluk ini terletak di Desa Purwakerthi, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, yang berada di ujung timur pulau Bali dan berbatasan langsung dengan selat Lombok.
Pantai Jemeluk merupakan objek wisata primadona bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara. Destinasi wisata ini termasuk dalam pengembangan kawasan pariwisata Tulamben. Daya tarik utama destinasi wisata ini adalah panorama alam bawah laut yang menyimpan potensi keindahan terumbu karang dengan beraneka ragam jenis boita laut dan ikan yang menghiasinya. Jika melihat ke arah laut dari atas tebing, kita akan melihat panorama alam yang indah dengan latar belakang pegunungan dan hamparan laut yang luas.
Berdasarkan cerita masyarakat setempat, nama Jemeluk berasal dari kata “Nyeluk” yang artinya teluk. Jadi Jemeluk merupakan sebuah teluk yang indah dengan ombaknya yang tenang tak terlalu bergelombang. Bahkan karena airnya yang jernih, wisatawan dapat melihat keindahan terumbu karang dan biota laut yang hidup didalamnya dengan jarak beberapa meter dari atas tebing seperti yang terlihat pada gambar di bawah:
Uniknya, di bawah laut Jemeluk ini terdapat sebuah kotak pos bawah laut (submarine mailbox). Submarine mailbox merupakan yang pertama di Indonesia, dan di tingkat internasional menduduki urutan ke empat yang sebelumnya sudah ada di Vanuatu – Samudera Pasifik, Jepang dan Malaysia. Kotak pos ini terletak di kedalaman 5 meter dari atas permukaan laut, dengan tinggi 2,5 meter, berat kurang lebih 3 ton dengan jarak sekitar 30 m dari bibir pantai. Bentuknya, seperti gambar di bawah ini:


Di sepanjang jalan menuju pantai Jemeluk ini terdapat begitu banyak homestay atau hotel, restaurant dan juga art shop. Jadi bila mau berlama-lama di tempat ini ga usah khawatir. Karena alasan itu juga, PT. Pos Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Reef Check Indonesia (YRCI) membuat inovasi baru yaitu kotak pos bawah laut (submarine mailbox) di kawasan ini.
By : Sukariyanto

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS