RSS
Showing posts with label Bali's Cultures & Traditions. Show all posts
Showing posts with label Bali's Cultures & Traditions. Show all posts


OGOH - OGOH

     Nyepi udah makin deket guys. Nah, salah satu tradisi masyarakat Hindu Bali menjelang Nyepi adalah  membuat Ogoh – Ogoh. Ogoh – Ogoh sendiri merupakan boneka raksasa yang pada awal kemunculannya kerangka Ogoh – Ogoh tersebut dibuat dari kayu yang kemudian dibuat bentuk dengan anyaman bambu. Namun seiring perkembangannya, kini Ogoh – Ogoh lebih banyak dibuat dengan kerangka besi. Tujuannya sudah barang tentu agar lebih kuat dan bisa dipakai berkali – kali. Besi tersebut kemudian dilapisi Styrofoam yang telah dibentuk sesuai dengan karakter Ogoh – Ogoh yang akan dibuat. Ogoh – Ogoh kemudian dihias dengan kain dan berbagai pernak – perniknya yang juga ditambah dengan lampu – lampu yang akan menghiasinya ketika malam tiba.

     Ogoh – Ogoh dibuat untuk melambangkan Buta Kala (kekuatan negatif). Pada umumnya bentuk Ogoh – Ogoh diambil dari cerita pewayangan guys. Terutama karakter yang jahat (melambangkan kekuatan negatif). Selain karakter tertentu, Ogoh – Ogoh juga sering dibuat dengan memadukan beberapa karakter. Seperti Dewi Sinta yang diculik oleh Rahwana. Jadi dalam satu Ogoh – Ogoh terdapat lebih dari satu karakter. Tak jarang, dalam pementasannya, selain diiringi dengan Gamelan Baleganjur juga disisipkan fragmen tari dan mololog yang mengisahkan cerita tentang Ogoh – Ogoh tersebut.


     Ogoh – Ogoh dipentaskan sehari sebelum hari raya Nyepi, atau yang disebut dengan hari Pengrupuk. Pementasan biasanya dimulai ketika sore hari guys. Masyarakat Bali percaya bahwa Buta Kala biasanya keluar ketika petang atau peralihan dari siang (sore) ke malam. Nah, hari Pengrupuk itu dipercaya sebagai hari yang paling angker. Maka dari itulah, masayarakat Hindu Bali melakukan “Pecaruan” atau penyucian alam semesta dengan sesajen yang paling besar pada hari Pengrupuk yang jatuh pada bulan ke Sembilan di banding bulan – bulan lainnya guys. Setelah diarak keliling desa, Ogoh – Ogoh kemudian dibakar sebagai simbolis bahwa Buta Kala telah diusir. Nah diharapkan dengan dilakukannya upacara “Pecaruan atau Tawur Agung Kesanga” dan dibakarnya Ogoh-Ogoh tersebut, diharapkan hari raya Nyepi dan hari – hari berikutnya bisa dijalankan dengan baik tanpa ada gangguan atau halangan yang berarti.

     Sebenarnya Ogoh – Ogoh bukannlah suatu keharusan ketika merayakan hari raya Nyepi. Pasalnya, Ogoh –  Ogoh baru ada beberapa puluh tahun belakangan yang merupakan kreatifitas dari generasi muda. Ogoh – Ogoh kemudian dimaknai sebagai simbolis dari Buta Kala seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Dilihat dari sisi seni dan kreatifitas, maka Ogoh – Ogoh dianggap perlu sebagai sarana untuk menyalurkan kreatifitas generasi muda dan menjauhkkannya dari hal – hal negatif seperti mabuk – mabukan atau berinteraksi dengan narkoba. Dengan demikian Ogoh – Ogoh terus berkembang hingga saat ini. Bahkan, kreatifitas generasi muda terus berkembang. Ogoh – Ogoh tidak hanya mengambil karakter dari cerita pewayangan, melainkan cerita dari kehidupan nyata. Seperti yang banyak dibuat, yaitu Ohoh – Ogoh Koruptor Indonesia. Meski tidak mengambil karakter tokoh pewayangan, Ogoh – Ogoh tersebut tetap memiliki nilai estetika yang tinggi guys. Dan yang paling penting, tetap pada pakemnya yaitu melambangkan kekuatan negatif.



Akhir kata, Selamat Hari Raya Nyepi bagi anda yang merayaknnya J

By : Sukariyanto
Pictures by Google

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Penjor


Tak  terasa Galungan udah makin dekat. Umat Hindu Bali pun sudah mulai mempersiapkan sarana upkaranya. Yang namanya adat Bali, emang ga bisa lepas dari seni dan kreatifitas.  Satu hal yang sederhana saja, Penjor. Penjor merupakan salah satu upakara yang harus ada pada saat Hari Raya Galungan yang biasanya diletakkan di depan rumah.

Tapi jangan salah, Penjor dibuat bukan hanya sebagai hiasan semata. Melainkan sarat akan makna yang terkandung di dalamnya. Secara umum, Penjor merupakan wujud rasa bakti umat ke hadapan Sang Pencipta sebagai ucapan terima kasih atas karunia yang telah diberikan. Penjor terbuat dari sebatang bambu yang melengkung di bagian ujungnya. Bambu tersebut kemudian dihiasi dengan lengkungan janur serta plawa (dedaunan) di bagian bawahnya. Perlengkapan penjor adalah pala bungkah (jenis umbi-umbian seperti ketela rambat), pala gantung (misalnya kelapa, mentimun, pisang, nanas dll), pala wija (seperti jagung, padi dll), jajan, serta "Sanggah Ardha Candra" yang lengkap dengan sesajennya. Pada bagian ujung penjor digantungkan sampiyan penjor lengkap dengan porosan dan bunga. Sanggah Penjor Galungan mempergunakan Sanggah Ardha Candra yang terbuat dari bambu, dengan bentuk dasar persegi empat dengan atap yang melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bulan sabit.

Bambu tinggi melengkung adalah gambaran atau perlambangan dari gunung yang tertinggi sebagai tempat yang suci. Hiasan yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, padi, jajan dan kain merupakan perwakilan dari seluruh tumbuhan dan benda sandang pangan yang telah dikaruniakan oleh Sanghyang Widhi Wasa. Penjor Galungan adalah penjor yang bersifat religius yang mempunyai fungsi tertentu dalam upacara keagamaan yang wajib dibuat lengkap dengan perlengkapannya. Dilihat dari segi bentuknya, penjor merupakan lambang Pertiwi dengan segala hasilnya yang memberikan kehidupan dan keselamatan. Pertiwi atau tanah yang digambarkan sebagai dua ekor naga yaitu Naga Basuki dan Ananthabhoga. Selain itu, penjor juga merupakan perlambangan gunung, yang memberikan keselamatan dan kesejahteraan.

Oleh karena itu, membuat sebuah penjor sehubungan dengan pelaksanaan upacara memerlukan persyaratan tertentu dalam arti tidak asal membuat saja, namun seharusnya penjor tersebut sesuai dengan ketentuan Sastra Agama, sehingga tidak berkesan hiasan saja. Sesungguhnya unsur-unsur penjor tersebut adalah merupakan symbol-simbol suci, sebagai landasan peng-aplikasian ajaran Weda, sehingga mencerminkan adanya nilai-nilai etika Agama. Unsur-unsur pada penjor merupakan simbol-simbol sebagai berikut:
- Kain putih yang terdapat pada penjor sebagai simbol kekuatan Hyang Iswara.
- Bambu sebagai simbol dan kekuatan Hyang Brahma.
- Kelapa sebagai simbol kekuatan Hyang Rudra.
- Janur sebagai simbol kekuatan Hyang Mahadewa.
- Daun-daunan (plawa) sebagai simbol kekuatan Hyang Sangkara.
- Pala bungkah, pala gantung sebagai simbol kekuatan Hyang Wisnu.
- Tebu sebagai simbol kekuatan Hyang Sambu.
- Sanggah Ardha Candra sebaga: simbol kekuatan Hyang Siwa.
- Upakara sebagai simbol kekuatan Hyang Sadha Siwa dan Parama Siwa.


Terlepas dari semua itu, masyarakat biasanya membuat Penjor tersebut agar tampil lebih indah. Di sinilah kreatifitas tersebut dituangkan. Pada bagian lekukan janur yang paling bawah, biasanya dibentuk lebih besar dan dibuat lebih seni. Bahkan ada yang membentuknya menyerupai bunga teratai, naga atau burung. Janur Penjor ini juga bisa dijadikan mata pencaharian sampingan ketika Galungan tiba. Pasalnya tidak semua orang memiliki kreatifitas untuk membuatnya. Di samping itu juga terbatasnya waktu untuk membuat janur tersebut.


dikutip dari : http://www.parisada.org
gambar : www.google.co.id

By, Sukariyanto

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rumah Adat Bali


Rumah Adat

Rumahku Istanaku. Bila dipikir – pikir, istilah tersebut memang benar. Sebab, rumah merupakan tempat kita beristirahat dan melakukan berbagai jenis aktivitas. Sehingga rumah harus didesign sebagus mungkin agar tetap terasa nyaman senyaman istana. Hal ini juga berlaku pada gaya arsitektur bangunan rumah di Bali. Orang Bali tidak akan membangun rumah secara sembarangan melainkan berpedoman pada aturan – aturan yang disebut Asta Kosala Kosali.

          Sesuai dengan mitholigi Hindu, dikenal istliah Tri Hita Karana. Yaitu tiga unsur penyebab kebahagiaan. Tri Hita Karana tersebut terdiri dari Parhyangan (hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan), Pawongan (hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesama manusia) dan Palemahan (hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungan).  Konsep ini juga diterapkan dalam pembangunan rumah di Bali.

Di mana, Parhyangan merupakan daerah hulu (luan) biasanya di arah timur atau utara tempat untuk membangun tempat suci yaitu Merajan / Sanggah. Pawongan berada di tengah – tengah yaitu tempat membangun bangunan rumah. Biasanya terdapat 3 bangunan utama yaitu Bale Daja (Meten) merupakan tempat untuk beristirahat, Bale Dangin atau biasa disebut Bale Suka Duka, merupakan tempat untuk menyelenggarakan upacara Yadnya khususnya Manusa Yadnya seperti pernikahan, potong gigi dan juga kematian. Pewaregan / Paon yaitu bangunan dapur tempat untuk memasak. Bangunan lainnya berupa kamar mandi dan Jineng (lumbung) yaitu tempat menyimpan gabah atau padi yang telah dipanen. Di areal pekarangan rumah (pawongan) ini, biasanya juga terdapat sebuah Pelinggih (bangunan suci) yang terletak di dekat Bale Dangin (Bale Suka Duka). Sedangkan Palemahan adalah daerah yang tersisa selain kedua areal tersebut (teben). Areal ini biasanya digunakan untuk berkebun atau memelihara ternak seperti ayam dan babi. Areal ini juga termasuk halaman di depan rumah (Jaba / lebuh).

Bale Daja (Meten)
Photobucket
Bale Dangin (Bale Suka Duka)
Photobucket
Kori (lebuh)
Photobucket

Sukariyanto

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Subak


SUBAK
Pengertian

Subak merupakan salah satu kelembagaan tradisional yang telah terbukti efektivitasnya dalam menyangga pembangunan pertanian dan perdesaan di Bali. Karena keunikan dan berbagai karakteristik lainnya, Subak telah terkenal ke berbagai penjuru dunia khususnya di kalangan pakar pembangunan pertanian dan perdesaan, maupun ahliahli ilmu sosial (Sosiolog dan Antropolog), serta pemerhati masalah teknis keirigasian.

Kata subak berasal dari bahasa Bali yang secara etimologi berarti daerah pengairan. Dalam Perda Provinsi Bali No. 02/PD/DPRD/1972, pemerintah Provinsi Bali mengakui bahwa subak bersifat otonom. Menurut Perda ini yang dimaksud dengan subak adalah masyarakat hukum adat di Bali yang bersifat sosio agraris religius yang secara historis didirikan sejak dahulu kala dan berkembang terus sebagai organisasi penguasa tanah dalam bidang penguasaan air dan lain – lain untuk perawatan dari suatu sumber air di dalam suatu daerah.

Sejarah

      Beberapa prasasti yang memuat sejarah kenberadaan subak di Bali antara lain:

          Ø Prasasati Sukawana A I
Prasasti ini berangka tahun 882 M, menunjukkan sistem pertanian sawah dan tegalan (ladang) telah ada di Bali tahun 882 M, buktinya menurut prasati ini, pada waktu itu di Bali telah ada istikah “Huma” yang berarti sawah dan “Perlak” yang berarti tegalan (ladang).

Ø Prasasti Bebetin A I
Prasasti yang berangka tahun 896 M ini menyebutkan pada waktu itu telah ada Undagi Lancang (tukang pembuat perahu), Undagi Batu (tukang mencari batu) dan Undagi Pengarung (tukang pembuat terowongan air). Pada masa itu sudah ada ukuran pembagian air untuk persawahan yang disebut “kilan” atau yang sekarang disebut dengan “Tektekan Yeh” yaitu ukuran air untuk persawahan.

Ø Prasasti Trunyan A
Berangka tahun 891 M. Disebutkan bahwa pada waktu itu ada kata “Ser Danu” yang berarti keoala urusan air danau (danau Batur). Diperkirakan kata “Ser” inilah yang berubah menjadi “Pekaseh” yaitu pimpinan Subak yang bertugas mengatur pemanfaatan dan pembagian air irigasi untuk persawahan dalam satu wilayah subak. 

       Secara factual, sejak tahun 1071 M, telah dikenal adanya subak yang terlihat dalam:

          Ø Prasasti Pandak Bandung
Prasati ini berangka tahun 1071 M, dijumpai untuk pertama kalinya kata “kasuwakan” yang sekarang menjadi kata “kasubakan” atau “subak”.

 Ø Prasasti Klungkung
Berangka tahun 1072 M, dikatakan bahwa waktu itu ada “kasuwakan Rawas” yang berarti “kasubakan Rawas”. 

    Secara legendaris, terbentuknya subak di Bali disebutkan dalam Lontar Markandeya Purana, bahwa Rsi Markandeya datang dari Gunung Raung dengan 800 pengikut dan membuat sawah di sebuah desa yang bernama Desa Sarwada yang sekarang bernama Desa Taro di Tegalalang, Gianyar. Sawahnya disebut “Puwakan”.

    Sebagaimana halnya dengan organisasi tradisional yang tumbuh di Bali, Subak juga berdasar atas filosofi Tri Hita Karana, yang mengupayakan keharmonisan hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam semesta.

Ciri dasar Subak

Ø Subak merupakan organisasi petani yang mengelola air irigasi untuk anggota-anggotanya. Sebagai organisasi, Subak memiliki pengurus dan aturan-aturan keorganisasian (Awig-awig) baik tertulis maupun tidak tertulis;
 Ø Subak mempunyai suatu sumber air bersama, dapat berupa bendung di sungai, mata air, air tanah, ataupun saluran utama suatu sistem irigasi;
    Ø Subak mempunyai suatu areal persawahan;
   Ø Subak mempunyai otonomi, baik internal maupun eksternal; dan 
 Ø Subak mempunyai satu atau lebih Pura Bedugul (atau pura yang berhubungan dengan kesubakan, untuk memuja Dewi Sri, manifestasi Tuhan sebagai Dewi Kesuburan). (Pitana, 1997)

Anggota Subak

Subak adalah organisasi petani yang bergerak dalam usaha pengaturan air irigasi untuk lahan basah (sawah). Karena faktor pengikat utamanya adalah air irigasi, maka anggota suatu Subak adalah petani pemilik/penggarap sawah yang dilayani oleh suatu jaringan atau sub-jaringan irigasi tertentu, tidak memandang dari desa mana anggota tersebut berasal, dengan kata lain pendekatan Subak adalah pendekatan jaringan irigasi (canal based) dan bukan desa (village based).

Anggota suatu Subak dapat berasal dari berbagai desa, dan seorang petani dapat menjadi anggota pada beberapa Subak. Secara umum anggota Subak (Krama Subak) dapat dibedakan atas tiga kelompok, yaitu anggota aktif (Krama Pengayah), anggota pasif (Krama Pengampel) dan anggota khusus (Krama Leluputan) yang dibebaskan dari kewajiban Subak karena memangku jabatan tertentu.

Struktur Organisasi Subak

Sebagai suatu organisasi, Subak mempunyai unsur pimpinan yang disebut dengan Prajuru. Pada Subak yang kecil, struktur organisasinya sangat sederhana, hanya terdiri dari seorang ketua Subak yang disebut Kelihan Subak atau Pekaseh, dan anggota Subak.

Sedangkan pada Subak-subak yang lebih besar, prajuru subak umumnya terdiri atas :

   - Pekaseh (Ketua Subak),
   - Petajuh (Wakil Pekaseh),
   - Penyarikan (Sekretaris),
   - Petangen atau Juru Raksa (Bendahara),
   - Juru arah atau Kasinoman (Pembawa informasi), dan
   - Saya (Pembantu khusus).

Prajuru Subak umumnya dipilih oleh anggota Subak dalam suatu rapat pemilihan, untuk masa jabatan tertentu (biasanya 5 tahun). Untuk Juru arah biasanya dijabat bergilir oleh anggota Subak dengan pergantian setiap bulan (35 hari) atau enam bulan (210 hari), sedangkan Saya dipilih berdasarkan upacara keagamaan Subak.

Subak-subak yang besar biasanya dibagi atas sub-sub yang disebut dengan Tempek yang dipimpin seorang Kelihan Tempek. Untuk tujuan-tujuan tertentu, misalnya koordinasi dalam distribusi air dan atau upacara pada suatu pura, beberapa Subak dalam suatu wilayah bergabung dalam suatu koordinasi yang disebut Subak Gede. Subak anggota dari suatu Subak Gede umumnya berada dalam satu daerah irigasi, meskipun ada juga Subak Gede yang Subak anggotanya memiliki sistem irigasi sendiri-sendiri.

Fungsi dan tugas Subak

Fungsi dan tugas yang dilakukan Subak dapat berupa fungsi dan tugas internal dan eksternal. Secara internal, tugas utama yang harus dilaksanakan Subak adalah :

    - Pencarian dan distribusi airi irigasi,
    - Operasi dan pemeliharaan fasilitas irigasi,
    - Mobilisasi sumberdaya,
    - Penanganan persengketaan, dan
    - Kegiatan upacara/ritual.

Sedangkan secara eksternal, Subak merupakan lembaga agen pembangunan pertanian dan pedesaan yang telah terbukti memegang peranan penting dalam melaksanakan program-program pembangunan seperti program Bimas, Insus, Supra Insus, pengembangan KUD, dan sebagainya. (Pitana, !997).

Apabila selama ini Subak diasosiasikan dengan agama Hindu, hasil penelitian Sudana (1991), di Subak Tegallinggah Kabupaten Buleleng, menemukan bahwa petani yang tidak beragama Hindu (dalam hal ini beragama Islam) dapat menjadi anggota Subak dan terjadi afinitas (daya gabung) antara petani yang berbeda agama dalam organisasi Subak. Afinitas antar nilai-nilai agama terjadi pada nilai-nilai yang mengatur hubungan antar manusia (petani dengan petani), sedangkan untuk nilai-nilai yang mengatur hubungan masnusia dengan alam gaib (Tuhan Yang Maha Esa) tidak terjadi afinitas.

Afinitas tersebut menumbuhkan suatu perasaan in group antar anggota yang berbeda agama, sedangkan terhadap perbedaan keyakinan terjadi saling menyesuaikan (accomodation) dalam bentuk toleransi antar agama.

Source :     http://suniscome.50webs.com (Agus Purbathin Hadi).
                LKS ORSOSDAT SMP, Kabupaten Tabanan.

Sukariyanto

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Desa di Bali


Desa di Bali

Disamping merupakan kesatuan wilayah, desa di Bali juga merupakan suatu kesatuan keagamaan yang ditentukan oleh suatu kompleks pura desa yang disebut Kahyangan Tiga (Tri Kahyangan), yaitu Pura Puseh, Pura Bale Agung dan Pura Dalem. Ada kalanya Pura Puseh dan Pura Bale Agung dijadikan satu dan disebut Pura Desa (Baliaga, 2000).

Dengan diberlakukannya UU No. 5 Tahun 1979, di Bali dikenal adanya dua pengertian desa. Pertama, 'desa' dalam pengertian hukum nasional, sesuai dengan batasan yang tersirat dan tersurat dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1979 tentang pemerintahan desa. Desa dalam pengertian ini melaksanakan berbagai kegiatan administrasi pemerintahan atau kedinasan sehingga dikenal dengan istilah 'Desa Dinas' atau 'Desa Administratif'. Desa dalam pengertian yang kedua, yaitu desa adat atau Desa Pakraman, mengacu kepada kelompok tradisional dengan dasar ikatan adat istiadat dan terikat oleh adanya tiga pura utama (Kahyangan Tiga). Dasar pembentukan desa adat dan desa dinas memiliki persyaratan yang berbeda, sehingga wilayah dan jumlah penduduk pendukung sebuah desa dinas tidak selalu kongruen dengan desa adat.

Secara historis belum diketahui kapan dan bagaimana proses awal terbentuknya desa adat di Bali. Ada yang menduga bahwa desa adat telah ada di Bali sejak zaman neolitikum dalam zaman prasejarah. Desa adat mempunyai identitas unsur-unsur sebagai persekutuan masyarakat hukum adat, serta mempunyai beberapa ciri khas yang membedakannya dengan kelompok sosial lain. Ciri pembeda tersebut antara lain adanya wilayah tertentu yang mempunyai batas-batas yang jelas, dimana sebagian besar warganya berdomisili di wilayah tersebut dan adanya bangunan suci milik desa adat berupa kahyangan tiga atau kahyangan desa (Dharmayuda, 2001).

Eksistensi Desa Adat di Bali diakui oleh pasal 18 UUD 1945 dan dikukuhkan oleh Peraturan Daerah Propinsi Bali No. 6 Tahun 1986, yang mengatur tentang kedudukan, fungsi dan peranan Desa adat sebagai kesatuan masyarakat Hukum Adat di Propinsi Daerah Bali. Kelembagaan Desa adat bersifat permanen dilandasi oleh Tri Hita Karana. Pengertian Desa adat mencakup dua hal, yaitu : (1) Desa adatnya sendiri sebagai suatu wadah, dan (2) adat istiadatnya sebagai isi dari wadah tersebut. Desa adat merupakan suatu lembaga tradisional yang mewadahi kegiatan sosial, budaya dan keagamaan masyarakat umat Hindu di Bali. Desa adat dilandasi oleh Tri Hita Karana, yaitu : (1) Parahyangan (mewujudkan hubungan manusia dengan pencipta-Nya yaitu Hyang Widhi Wasa), (2) Pelemahan (mewujudkan hubungan manusia dengan alam lingkungan tempat tinggalnya), dan (3) Pawongan (mewujudkan hubungan antara sesama manusia, sebagai makhluk ciptaan-Nya) (Dharmayuda, 2001).

Di samping desa adat dan desa dinas tersebut, di Bali juga terdapat desa Bali Aga atau desa Bali asli. Agama Hindu di Bali sebenarnya berasal dari Kerjaan Majapahit di Jawa Timur. Ketika kerajaan tersebut runtuh sebagian besar seniman dan budayawannya berpindah ke Bali. Jadi bisa dikatakan 90% punduduk Bali yang bergama Hindu berasal dari Kerajaan Majapahit tersebut. Sebagian kecil lainnya adalah penduduk Bali asli atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bali Aga.

Penduduk Bali Aga tersebut bermukim di daerah – daerah yang bisa dikatakan terpencil dan jauh dari keramaian. Desa Bali Aga banyak terdapat di Kabupaten Karangasem, Bangli dan juga Kabupaten Buleleng. Seiring dengan perkembangan pariwisata di Bali, desa Bali Aga pun tak luput dari incaran wisatawan. Deawasa ini, tempat tinggal masyarakat Bali Asli tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia pariwisata Bali. Desa Bali Aga yang telah berkembang menjadi destinasi wisata antara lain Desa Tenganan di Kabupaten Karangasem, Desa Panglipuran dan Desa Trunyan di Kabupaten Bangli.

Meskipun dewasa ini perkembangan zaman semakin pesat, masyarakat desa Bali Aga tersebut hingga kini masih mempertahankan tradisi dan kebudayaannya yang meliputi arsitektur bangunan, kesenian dan juga adat – istiadat. Hal ini lah yang menjadi magnet bagi wisatwan dan yang membedakannya dari desa – desa yang lazim kita jumpai di Bali.

Source : http://suniscome.50webs.com  (Agus Purbathin Hadi).
Ditambahkan oleh, Sukariyanto.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Banjar


 Banjar

Desa atau kelurahan di Bali terdiri atas beberapa banjar, berbeda dengan daerah lain di Indonesia, dimana suatu desa terdiri atas beberapa RT/RW. 
o   Pengertian Banjar
Berdasarkan kamus Kawi – Indonesia, kata banjar berarti baris atau lingkungan. dapat juga diartikan berjajar atau berderet ke samping. Banjar juga berarti kelompok. Dalam bahasa Bali dapat diartikan banjah yaitu membentang.
Banjar di Bali adalah kelompok masyarakat yang lebih kecil dari desa, dan menjadi bagian dari desa tersebut, serta merupakan persekutuan hidup sosial baik dalam keadaan senang maupun susah (suka duka). Banjar juga merupakan pengelompokan sosial yang berdasarkan persekutuan hidup setempat atau kesatuan wilayah.
o   Sejarah Banjar
Mengenai asal usul dari banjar, tidak terlepas dengan sejarah dari Bali itu sendiri. Pada zaman prasejarah kehidupan penduduk Bali bisa dikelompokkan menjadi beberapa jenis yaitu masa berburu, masa bercocok tanam dan masa perundagian.
Pada masa berburu, masyarakat bali berpindah – pindah demi mendapatkan makanan (nomaden). Pada masa bercocok tanam, masyarakat Bali mulai mengenal cara mengumpulkan makanan dengan bercocok tanam dan beternak. Pada masa ini mereka mulai hidup berkumpul dan membentuk kelompok masyarakat yang memerlukan segala peraturan kerja sama. Pada masa perundagian, mereka sudah memiliki tempat tinggal dengan pola hidup menetap, serta membentuk kelompok – kelompok dan mengatur kehidupannya menurut kebutuhannya yang dipusatkan pada menghasilkan bahan makanan sendiri.
Pada masa bercocok tanam dan perundagian, mereka sudah menunjukkan hidup menetap dan berkelompok, serta membentuk suatu masyarakat. Pada masa inilah dikatakan mulai timbulnya banjar yang dipakai untuk menyebutkan persekutuan hidup berkelompok pada suatu tenpat atau wilayah.
Sejarah mengenai banjar juga terdapat dalam prasati Gobleg Pura Desa I, di mana menurut prasasti tersebut,  pada tahun 836 Ҫaka atau 914 Masehi, di Bali sudah ada istilah banjar yang dipakai untuk menyebutkan kelompok-kelompok masyarakat yang hidup di wilayah desa sampai sekarang.
o   Jenis – Jenis Banjar
Sama halnya dengan desa, banjar di Bali juga dibedakan menjadi 2 yaitu Banjar Adat dan Banjar Dinas.
Banjar Adat :
ü  Keanggotaannya bersifat homogen yaitu beragama sama (Agama Hindu)
ü  Kegiatan sosialnya meliputi pasuka-dukaan (Suka Duka)
ü  Diikat dengan awig-awig
ü  Dipimpin oleh Kelian Adat
ü  Bersifat Otonom
ü  Diatur oleh perda prov Bali no. 60 tahun 1986.
Banjar Dinas :
ü  Keanggotaannya bersifat heterogen
ü  Kigiatan sosialnya tergantung dari program pemerintah
ü  Diikat oleh peraturan (undang-undang) dari pemerintah dan bersifat vertikal
ü  Dipimpin oleh Kelian Dinas
ü  Diaur oleh UU no 5 tahun 1979
ü  Organisasi terbawah dari Negara RI dan yang terkecil di Bali.


Sukariyanto




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Upacara Keagamaan


Upacara Keagamaan

Upacara keagamaan masyarakat Hindu di Bali merupakan suatu hal yang sangat menarik bagi wisatawan yang datang ke pulau Dewata tersebut. Karena hal ini hanya terdapat di Bali. Meskipun banyak masyarakat yang beragama Hindu di luar Bali, namun kegiatan upacara keagamaan yang meraka selenggarakan tentu tidak seperti di Bali, mengingat banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut.
Masyarakat Bali menyelenggarakan upacara keagamaan berdasarkan suatu ajaran agama yang disebut Panca Yadnya (Lima Korban Suci yang tulus ikhlas). Hal ini pun menjadi suatu kewajiban bagi masyarakat Hindu di Bali, dengan tujuan mencapai kesimbangan alam semesta. Panca Yadnya tersebut dibagi menjadi lima yaitu Dewa Yadnya (korban suci yang dihaturkan kepada Tuhan), Rsi Yadnya (korban suci yang dihaturkan kepada orang suci (Pendeta/Sulinggih)), Manusa Yadnya (upacara untuk manusia seperti pernikahan dll), Pitra Yadnya (korban suci kepada leluhur atau oang tua) dan Bhuta Yadnya (korban suci yang ditujukan kepada Bhuta Kala atau unsur-unsur negatif).
Dari kelima jenis Yadnya tersebut yang paling menarik perhatian dari wisatawan adalah Pitra Yadnya dan Dewa Yadnya. Sebagai contoh upacara Pitra Yadnya adalah Ngaben (upcara pembakaran mayat). Hal ini tentu sangat menarik karena pada umumnya orang yang meninggal biasanya di kubur. Yang menjadi daya tarik lainnya adalah sarana yang digunakan terutama Wadah/Bade yaitu tempat meletakkan mayat saat diusung ke kuburan dan juga Lembu yang digunakan sebagai tempat untuk membakar mayat.


 Bagi masyarakat Hindu Bali, Panca Yadnya tersebut merupakan suatu hal yang sangat disucikan dan tidak dilakukan secara sembarangan. Dengan demikian atraksi wisata berupa upacara keagamaan tersebut tidak bisa dimasukkan ke dalam suatu tour package karena hanya bisa dijumpai pada waktu-waktu tertentu saja.
Hampir sama dengan masyarakat Jawa, atau daerah lainnya, masyarakat Bali juga mengenal Weton/Pawukon yang menjadi patokan dalam pemilihan hari suci. Di samping itu masyarakat Bali juga memadukan Weton/Pawukon tersebut dengan peredaran bulan (Purnama/Tilem), Sasih (bulan pada tahun Ҫaka) dan juga Wewaran.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Alat Musik (Gamelan)

Dari segi Alat Musik (Gamelan), Bali juga memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan Gamelan dari daerah lain. Perbedaan tersebut biasanya terlihat dari segi bentuk, motif  hiasan, irama dan yang lainnya. Terdapat beberapa jenis gamelan di Bali seperti Gong, Angklung, Rindik, Oko’an, Tektekan, Gender dan Gegluntangan.

§  Gong
Gong merupakan seperangkat gamelan yang terdiri dari Gong, Cengceng, Gupek (Kendang), Riong, Suling (seruling), terompong, kempur dan lain – lain. Gong biasanya digunakan untuk mengiringi jalannya Upacara Panca Yadnya dan juga tarian tradisional. Dalam memainkannya, biasanya menggunakan tangga nada berlaras Pelog.
§  Angklung
Berbeda dengan angklung yang kita jumpai di daerah Jawa Barat, Angklung di Bali merupakan seperangkat gamelan yang hampir sama dengan Gong. Namun jumlahnya instrumennya lebih sedikit. Angklung biasanya digunakan untuk mengiringi Upacara Pitra Yadnya.
§  Rindik
Rindik, merupakan alat musik yang terbuat dari Bambu yang dirangkai menjadi satu dan diberikan pinggiran yang terbuat dari kayu. Pinggiran tersebut biasanya di hias dengan lukisan atau ukiran khas Bali. Alat musik ini memiliki konsep yang hampir sama dengan Angklung di Jawa Barat. Berbeda dengan Gong atau Angklung, rindik tidak dipergunakan dalam prosesi uoacara keagamaan, melainkan berfungsi sebagai hiburan. Dengan alunan suaranya yang khas, rindik merupakan alat musik yang menenangkan jiwa. Sehingga alat musik ini sering dipergunakan di spa atau tempat-tempat yang biasanya memberikan ketenangan.
Di bali juga terdapat alat musik yang hampir sama dengan rindik. Namun memiliki fungsi dan irama yang berbeda. Alat musik tersebut biasanya dipergunakan mengiringi salah satu Tari Balih-balihan yaitu tari Joged Bumbung. Selain itu, alat musik yang hampir sama dengan rindik juga terdapat di Kabupaten Jembrana yang bernama Jegog. Bedanya, Jegog memiliki ukuran yang lebih besar dan juga instrumen yang lebih banyak. Jegog tersebut tidak bisa dipisahkan dengan tarian yang senantiasa mengiringinya. Jadi alat musik + tarian menjadi satu paket yang disebut Jegog. Dewasa ini kesenian Jegog tersebut menjadi icon dari kabupaten yang terdapat di bagian barat Pulau Bali tersebut.
§  Oko’an dan Tektekan
Oko’an merupakan alat musik yang terbuat dari kayu dengan bentuk seperti kalung sapi. Dengan ukuran yang cukup besar. Sedangakan Tektekan merupakan alat musik yang terbuat dari bambu yang berbentuk menyerupai kentongan (kulkul). Kedua alat musik tersebut banyak terdapat di daerah Kabupaten Tabanan. Namun sayangnya, dewasa ini sudah sangat sulit menjumpai kedua alat musik tersebut.
§  Gender
Gender  merupakan alat musik yang juga terdapat pada Gong dan Angklung. Namun pada suatu upacara tertentu, gender tersebut tidak dipasangkan dengan perangkat gamelan lainnya. Melainkan hanya terdiri dari beberapa buah Gender saja. Alat pemukulnya (Panggul)nya pun memeliki bentuk uang berbeda dengan Panggul yang digunakan pada gong atau angklung. Gender biasanya digunakan untuk mengiringi jalannya upacara Manusa Yadnya khususnya upacra Mepandes/Mesangih/Metatah (Potong Gigi). Gender juga digunakan untuk mengiringi jalannya pementasan wayang kulit tradisional.
§  Gegluntangan
Gegluntangan merupakan seperangkat gamelan yang bisanya digunakan untuk mengiringi kekawin. Seperti halnya di Jawa yang dikenal dengan Sinden, di Bali juga terdapat kesenian yang hampir sama yang di sebut dengan Utsawa Dharma Githa. Gegluntangan biasanya digunakan untuk menguringi Sekar Agung berupa kekawin.


Sukariyanto

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tarian Bali

Bali memiliki begitu banyak tarian, dari seluruh tarian itu kemudian dibagi menjadi 3 jenis tarian seperti Tari Wali, Tari Bebali dan Tari Balih-balihan.
·         Tari Wali merupakan kelompok tari yang disakralkan atau disucikan. Tarian ini biasanya dipentaskan di Pura atau saat upacara keagamaan sedang berlangsung. Contoh dari Tari Wali antara lain, Tari Rejang Dewa, Tari Topeng Sidakarya, Tari Sanghyang, dll. Tari Wali biasanya mengambil tempat pementasan di Jeroan (halaman utama) pura.
·         Tari Bebali merupakan tarian yang masih berkaitan dengan jalannya suatu upacra agama. Tarian ini biasanya digelar setelah upacara selesai dilaksakan. Berbeda dengan Tari Wali yang bersamaan dengan jalannya upacra agama. Pada umumnya tari Bebali dipentaskan dengan suatu lakon yang berhubungan dengan pelaksanaan upacara tersebut. Contoh: Tari Topeng Pajegan, Topeng Panca, Tari Gambuh, dll. Tari Bebali biasanya dipentaskan di Jaba Tengah yang merupakan ruang diantara halaman luar (Jaba Sisi) dengan halaman utama (Jeroan) suatu Pura.
·         Tari Balih-balihan. Dalam bahasa Bali, “balih-balihan” berarti tontonan. Jadi jenis tarian ini difungsikan sebagai media hiburan dengan lakon serta kreasi tari dan tabuh yang lebih bebas. Tidak diperlukan pertimbangan tenpat dalam pementasannya. Tari Balih-Balihan bisa dipentaskan dimana saja sesuai dengan kodisi yang ada. Berbeda halnya dengan Tari Wali dan Bebali yang dipentaskan di lingkungan Pura. Contoh Tari Balih-Balihan antara lain : Tari Joged Bungbung, Tari Oleg Tamulilingan, Tari Panyembrama, dll.

Sukariyanto

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MELASTI CEREMONY

As one of favourite tourism destination in the world, Bali offering many tourism object with very beautiful scenery.  Beside of that, Bali also offering culture tourism which very unique.  Bali owns immeasurable culture where every day we can find the Hindu ritual in the island, which is famous known as an Island of the God. One of Balinese culture is Melasti Ceremony.
Melasti ceremony is purification the Pratima (God symbol) and other Hindu Religion symbols such as: Barong or Jero Gede, Rangda, Ratu Ayu, Ratu Rarung, Tumbak, Tedung, Bandrang, Rontek and many more at the beach. The Pratima usually put on a place called Joli. Melasti Ceremony is conducted once a year in conjunction with the big Hindu’s Holiday or Hindu’s new year called Nyepi Day or silent day. The Melasti event is generally done three days before Nyepi day or depends to the local custom countryside rule.
First, all Pratima’s and Hindu symbols gathering in Desa Temple or Bale Agung Temple from each Temple. After that, in that day or the next day all Hindu people troop to carry the holy symbol of Hindu religion to the sea to be cleaned and looked at the alongside road the parade of Umbul-umbul symbol and others. It is also accompanied by the traditional gamelan enliven this event.
After come back  from beach the Pratima’s and all Hindu symbols usually given a sacrifice called Caru Pamendak in front of Desa Temple or Bale Agung Temple. After that the Pratima and other symbol usually stay for one or two night or hung up the local low, in the temple.
One day before Nyepi day or in Pengrupukan day, all Pratima’s and holy symbols back to each Temple. Its called Mepiak. In the afternoon, all Hindu people arrange a Mecaru Ceremony in their home and also arrange Ogoh – Ogoh Parade for welcoming the Nyepi day in next day.
                 
                                                                                                                              by, Sukariyanto 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS