RSS
Showing posts with label Bali's Accessibility. Show all posts
Showing posts with label Bali's Accessibility. Show all posts

Jalan Tol Bali Mandara

Jalan Tol Baru, Pengguna Masih Bingung

            Setelah diresmikan Senin, 23 September dan dibuka untuk umum Selasa 24 September, masyarakat Bali akhirnya dapat menikmati jalan tol pertama di pulau tersebut. Jalan tol yang menelan dana hingga 2 triliun rupiah itu dibangun di atas perairan selat Badung sepanjang 12 km yang menghubungkan Nusa Dua, Bandara Ngurah Rai dan Pelabuhan Benoa dan seluruhnya dikerjakan oleh anak bangsa dan selesai tepat pada waktunya.

            Pada hari pertama pembukaan jalan tol yang bernama Jalan Tol Bali Mandara tersebut, terlihat antusiasme masyarakat yang ingin merasakan pengalaman melintas di atas perairan. Hal ini terlihat dari antrean kendaraan di pintu tol Nusa Dua menjelang sore tadi. Pemerintah memang tidak mengenakan tariff tol selama 7 hari pertama yaitu sampai dengan tanggal 30 September 2013. Hal ini agaknya dimanfaatkan oleh masyarakat yang ingin merasakan pengalaman berkendara di jalan tol di atas perairan tersebut.
            Di hari pertama pembukaan jalan tol untuk umum, terlihat masih banyak pengguna jalan yang masih bungung dengan jalur yang akan dilalui. Hal ini kebanyakan dialami oleh pengguna sepeda motor. Berbeda dengan jalur mobil yang cukup luas dengan rambu lalu - lintas yang jelas, jalur sepeda motor terbilang cukup sempit, rambu lalu – lintaspun cukup kecil. Sehingga agak sulit bagi pengguna sepeda motor melihatnya dari jauh dan mengambil ancang – ancang akan berbelok atau lurus.
            Rambu – rambu terutama di lingkar tol (pertemuan jalan tol dari arah Nusa Dua – Ngurah Rai – Benoa) untuk jalur sepeda motor memang sulit dilihat dari jauh, tidak seperti rambu – rambu yang disediakan untuk jalur mobil. Rambu – rambu tersebut baru terlihat beberapa meter sebelum mencapai persimpangan. Hal inilah yang membuat pengemudi sepeda motor tidak dapat mengambil ancang – ancang dan sering berbelok ke jalur yang salah dan harus berputar kembali. Ketika pengguna sepeda motor berputar kembali inilah yang dapat saja menimbulkan kecelakaan.
Jadi bagi anda yang akan melintas di Jalan Tol Bali Mandara diharapkan agar :
-          Memperhatikan kondisi kendaraan, terutama bahan bakar. Patikan bahan bakar anda cukup untuk melintas di sepanjang jalan tol.
-          Menyiapkan uang yang akan digunakan untuk membayar tol (setelah tanggal 30 September 2013) yaitu Rp. 4000 untuk sepeda motor dan Rp. 10.000 untuk mobil
-          Bila anda menggunakan sepeda motor, ada baiknya untuk menggunakan jaket karena anginnya cukup kencang.

-          Berhati – hatilah dalam berkendara dan perhatikan rambu – rambu lalu – lintas yang ada.


Sukariyanto

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Underpass & Tol


Beberapa tahun belakangan, kemacetan di Bali kian meningkat. Terutama di sekitar Simpang Dewa Ruci hingga Kedonganan. Kondisi ini tentu sangat mengganggu pengguna jalan. Kemacetan tersebut tidak hanya terjadi ketika jam berngkat / pulang kerja. Melainkan terjadi sepanjang hari, dari pagi hingga petang.

Mengingat Bali merupakan daerah tujuan pariwisata dunia, kemacetan tersebut sangatlah mengganggu kegiatan wisata terutama yang menuju / dari Nusa Dua. Hal ini bisa memperburuk citra Bali tidak hanya dari sisi wisatawan, melainkan juga delegasi dari negara – negara lain yang menghadiri konferensi di Nusa Dua.

Tahun 2013 mendatang, Bali kembali dipercaya sebagai tuan rumah salah satu perhelatan akbar yaitu KTT APEC 2013, dan akan dilanjutkan dengan AFTA 2015. Di mana tahun lalu Bali juga menjadi tuan rumah KTT ASEAN 2011. Dengan kondisi kemacetan seperti itu, tentu akan menggangu jalannya APEC dan menambah pekerjaan Polantas untuk mengatur jalur. Nah, kalau sudah begitu masyarakat pasti juga kena imbasnya karena harus berhenti dan menunggu hingga delegasi - delegasi negara tersebut lewat. Alhasil, kemacetanpun semakin panjang.

Untuk menghindari hal tersebut, pemerintahpun menata kembali pusat kemacetan yaitu Simpang Dewa Ruci dengan membangun Underpass. Underpass dibangun tepat di sebelah barat patung Dewa Ruci yang menghubungkan jalan I Gusti Ngurah Rai di sebelah selatan dan jalan Sunset Road di sebelah utara. Underpass tersebut direncanakan dapat mengakomodir 4 lajur 2 arah dengan panjang 435 m dengan daerah tertutup sepanjang 40 m dan daerah terbuka 395 m.

Sebelum dibangun, Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) VIII telah menggelar studi kelayakan "underpass" pada tahun 2007. Kemudian dilanjutkan dengan perencanaan Detail Engineering Design (DED) yang telah beberapa kali mengalami perubahan, yaitu tahun 2008 dan 2010. Underpass dibangun PT Adhi Karya Tbk dengan nilai kontrak sebesar Rp 136,19 miliar. Lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan underpass adalah seluas 0,744 hektar. Underpass direncakan dapat rampung pada bulan Mei 2013.

Tak hanya itu, Bali kini juga membangun jalan tol pertamanya. Dan tidak tanggung-tanggung, jalan tol tersebut dibangun di atas laut. Tol tersebut dibangun untuk menghubungkan Bandara Ngurah Rai, Nusa Dua dan Benoa dengan panjang 8,12 Km dan akses tol sepanjang 1,597 Km yang direncanakan selesai pada bulan April 2013. Total investasi dari tol ini sebesar 2.49 triliun rupiah yang dikelola oleh PT Jasamarga Bali Tol, yaitu  perusahaan konsorsium BUMN yang terdiri dari PT  Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Pelindo III (Persero), PT Angkasa Pura I (Persero), PT Pengembangan Pariwisata Bali (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, serta PT Hutama Karya (Persero).

Diharapkan dengan adanya Underpass dan jalan tol, lalu lintas di Denpasar dan Simpang Dewa Ruci khususnya bisa berjalan lancar tanpa kemacetan.

Sukariyanto

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pelabuhan Benoa


Pelabuhan Benoa dibuka dan diusahakan sejak tahun 1924 (Stb. 1924 No. 378). Pada awalnya batas daerah kerja dan kepentingan pelabuhan Benoa didasarkan pada gambar peta pelabuhan zaman Belanda yang ditetapkan dalam Staadblad nomor 16 tanggal 8 Januari 1926 dan selanjutnya ditetapkan dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perhubungan nomor 15 Tahun 1990/KM.18 Tahun 1990 tanggal 14 Pebruari 1990 tentang Batas-batas Lingkungan Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan Benoa.

Untuk memenuhi tuntutan pesatnya perkembangan pariwisata di Bali dimana terlihat dari adanya perubahan pola kedatangan para turis domestik maupun manca negara yang semula hanya menggunakan pesawat terbang dan sekarang juga menggunakan kapal-kapal pesiar dan wisata. Kapal-kapal tersebut kebanyakan bertambat dengan menggunakan fasilitas Pelabuhan Benoa yang saat ini mampu menampung kapal dengan panjang 200 m. Hal ini dapat dilihat pada arus kunjungan kapal wisata mulai tahun 1993 yang meningkat dengan tajam.

Pelabuhan Benoa juga memiliki panorama alam yang indah. Dari tempat ini kita dapat melihat pulau Serangan dan juga kawasan pariwisata Tanjung Benoa. Pelabuhan Benoa juga menjadi tempat tinggalnya beberapa perusahaan cruise lokal menuju Nusa Lemabongan atau Nusa Penida seperti Bali Hai Cruise, Sail Sensation Cruise, Bounty Cruise dan lain-lain.



Sumber : www.dephub.go.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pelabuhan Buleleng


Terletak disebelah pesisir utara kota Singaraja. Di jaman dulu ketika Singaraja sebagai ibu kota dari Nusa Tenggara adalah merupakan pusat pelayaran yang penting.
Keputusan memindahkan ibu kota propinsi Bali dari Bali Utara ke Bali Selatan adalah berdasarkan dibaginya Nusa Tenggara menjadi 3 propinsi, membuat Pelabuhan Buleleng menjadi kurang berfungsi.
Kemerosotan pelabuhan buleleng mencapai puncaknya ketika pembangunan Pelabuhan Celukan Bawang ± 40 km arah Barat Singaraja.
Namun sejak Tahun 2005 bekas Pelabuhan Buleleng ini telah ditata oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng dengan penataan taman serta bekas dermaga kayu yang sudah usang diperbaharui dilengkapi dengan sarana restauran terapung.



By : Anggoro Irianto - http://anggoroinc.blogspot.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pelabuhan Padang Bai


Padang Bai terletak di desa Padang Bai, termasuk di dalam wilayah Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Padang Bai berlokasi di pantai di antara jalan raya jurusan Klungkung menuju Karangasem di mana sebelum kawasan wisata Candi Dasa terdapat pertigaan lampu merah kemudian membelok ke kanan. Untuk menuju pantai tersebut dari ibukota Denpasar berjarak sekitar 53 km ke arah jurusan Amlapura dan jarak antara Padang Bai ke Amlapura berkisar lebih kurang 30 km.

Padang Bai merupakan kawasan pelabuhan laut untuk wilayah Bali Timur yang digunakan sebagai pelabuhan penyeberangan ke Lombok. Selain itu, pelabuhan ini juga menjadi tempat berlabuhnya para wisatawan yang berkunjung ke Bali melalui lautan yang diangkut oleh kapal-kapal pesiar besar yang hanya berlabuh di Labuhan Amuk. Yang paling menarik di kawasan Padang Bai adalah tempatnya yang terlindung pada suatu teluk dengan batu-batu karangnya sehingga kehidupan bawah airnya menjadi aman. Pada bagian timur dari areal pelabuhan Padang Bai terdapat sebuah pantai yang pada saat ini menjadi kawasan wisata pantai yang cukup ramai dikunjungi oleh para wisatawan khususnya wisatawan mancanegara. Di kalangan wisatawan, kawasan pantai ini dikenal dengan nama Pantai Blue Lagoon.

Pada umumnya wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pantai Blue Lagoon karena mereka dapat menikmati keindahan alam yang tenang dengan perpaduan antara alam perbukitan dengan panorama laut yang membiru serta dapat langsung menyaksikan aktivitas penduduk sekitarnya yang umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Selain pemandangan laut yang membiru dan menawan, Pantai Blue Lagoon juga memiliki pasir pantai yang berwarna putih bersih dan tebal sehingga banyak wisatawan yang memanfaatkannya untuk berenang di laut atau berjemur di pantai. Aktivitas lain yang dapat dilakukan wisatawan antara lain diving dan snorkeling karena laut yang berada di sebelah timur dari pelabuhan Padang Bai terdapat banyak ikan-ikan hias tropis dengan karang-karangnya yang indah.

Selain berfungsi sebagai pelabuhan, Padang Bai juga merupakan kawasan wisata sehingga untuk menunjang sarana dan prasarananya sudah tersedia. Kini sudah ada beberapa buah fasilitas akomodasi dan rumah makan yang diperuntukkan bagi para wisatawan yang ingin menikmati liburannya, maupun untuk wisatawan yang akan menyeberang ke Lombok atau yang baru datang dari Lombok. Untuk keperluan penyeberangan ke Lombok tersedia kapal ferry yang siap melayani wisatawan atau orang-orang dalam 4 kali penyeberangan dalam sehari. Selain itu, bagi para wisatawan yang akan menikmati wisata air di kawasan pantai Blue Lagoon tersedia pula jukung-jukung penduduk setempat atau boat yang dapat disewa.


Berdasarkan sejarah, nama Padang Bai sebelumnya adalah Teluk Padang yang merupakan sebuah teluk yang aman terlindung dan sejak dahulu sudah digunakan sebagai pelabuhan kapal-kapal laut. Pergantian nama Teluk Padang menjadi Padang Bai terjadi pada masa penjajahan Belanda dan karena pengaruh bahasa Belanda, maka Teluk Padang lama kelamaan berubah nama menjadi Padang Bai (teluk) dan hingga sekarang daerah tersebut dinamakan Padang Bai. Di atas bukit di bagian sebelah timur pantai Padang Bai terdapat dua buah pura Dang Kahyangan. Pura yang berada di sebelah utara adalah Pura Silayukti yang dibangun oleh Mpu Kuturan sekitar abad ke-11, di mana beliau saat itu melakukan perjalanan suci di Bali. Mpu Kuturan adalah seorang pendeta yang sangat besar jasanya dalam mengatur tata keagamaan Hindu di pulau Bali. Ajaran-ajaran beliau hingga sekarang ini masih tetap ditaati dan dilaksanakan oleh setiap umat Hindu di Bali. Hari piodalan di Pura Silayukti dilaksanakan setiap hari Buda Kliwon Pahang, di mana pada hari itu seluruh umat Hindu akan datang untuk bersembahyang di Pura Silayukti. Sedangkan pura yang berada di sebelah selatan dari Pura Silayukti adalah Pura Tanjung Sari yang didirikan oleh Mpu Bharada, adik bungsu dari Mpu Kuturan. Hari piodalan dari Pura Tanjung Sari dilaksanakan setiap hari Buda Kliwon Matal. Di sebelah barat dari pelabuhan Padang Bai juga terdapat sebuah pura yang bernama Pura Penataran Agung, yang didirikan sekitar abad ke-16 oleh Dang Hyang Nirartha atau Dang Hyang Dwijendra yang lebih dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Wau Rauh dan beliau adalah keturunan dari Mpu Kuturan. Hari piodalan di Pura Penataran Agung dilaksanakan setiap hari Buda Wage Kelau, pada hari itu umat Hindu akan beramai-ramai datang untuk bersembahyang. Selain hari-hari piodalan, di pura-pura tersebut pada hari-hari raya tertentu banyak pula umat Hindu yang datang bersembahyang di ketiga pura tersebut.


By : Anggoro Irianto - http://anggoroinc.blogspot.com


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pelabuhan Gilimanuk


Pelabuhan ferry Gilimanuk merupakan salah satu gerbang laut menuju Pulau Bali. Berada di Kabupaten Jembrana, pelabuhan dikelola oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Saat ini tak kurang dari 24 kapal ferry yang setiap hari hilir mudir dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, ke Pelabuhan Gilimanuk.

Selain ASDP, yang memperoleh pendapatan resmi dari Pelabuhan Gilimanuk adalah Perusda Jembrana. Hanya saja, perusahaan ini pada 2008 sempat membuat berang Bupati Jembrana. Pasalnya, tahun itu setoran Perusda Jembarana yang berasal dari retribusi kendaraan yang masuk Bali lewat Pelabuhan Gilimanuk merosot tajam. Jika tahun sebelumnya bisa memenuhi target Rp 100 juta perbulan, tahun 2008 paling banyak hanya menyetor Rp 37 juta perbulan.

Penarikan retribusi di Gilimanuk itu semula dilakukan Dinas Perhubungan Jembrana. Namun setelah terbentuk Perusda Jembrana pada 2006, penarikan retribusi lewat pos di pintu keluar pelabuhan Gilimanuk diambil alih Perusda. Saat Bupati marah itu, setiap mobil yang masuk Bali dikenai retribusi Rp. 1000,-


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bandara Internasional Ngurah Rai


Ngurah Rai International Airport




       Bandara Internasional Ngurah Rai merupakan satu-satunya pintu masuk ke Pulau Bali melalui jalur udara. Bandara ini terletak di Bali Selatan tepatnya di desa Tuban, Kec. Kuta, Kab. Badung. Lokasi bandara ini sangat dekat dengan daerah tujuan wisata yang sangat terkenal di Bali yaitu pantai Kuta. Selain itu, hanya diperlukan waktu kurang dari 30 menit untuk mencapai kawasan pariwisata BTDC Nusa Dua.

Nama dari bandara ini diambil dari nama seorang pahlawan Bali yang memimpin pasukan Ciung Wanara pada perang puputan melawan Belanda, yaitu I Gusti Ngurah Rai. Untuk lebih jelasnya tentang perjalanan dari Bandara Internasional Ngurah Rai, langsung saja click di sini.

Sebagai gerbang utama memasuki Pulau Bali, Bandara Internasional Ngurah Rai tentu dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Mulai dari Fasilitas Pelayanan Pesawat Udara, Fasilitas Sisi Udara, Fasilitas Sisi Darat, Fasilitas Pelayanan Penumpang, Fasilitas Pelayanan Penerbangan, hingga Utilitas. Untuk jelasnya, click di sini.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Fasilitas Bandara Internasional Ngurah Rai


Ngurah Rai International Airport

-Fasilitas-


FASILITAS PELAYANAN PESAWAT UDARA

Landasan Pacu
Berukuran 45 M x 3.000 M dengan konstruksi perkerasan beton dan aspal, PCN 83/F/C/X/T, dapat digunakan pesawat kelas B 747-400 untuk menempuh jarak setara Denpasar - Tokyo tanpa pembatasan beban.


Fasilitas Sisi Udara


• Aerodome Refference Code : 4E
 • Runway Operation Category : Cat I
 • Dimensi Runway : (3.000 x 45) M
 • Runway Strip : (3.120 x 300) M
 • Taxiway                           
                Perpendicular : 5
                Dimensi : 3 x (148,5 x 23) M (600 x 23) M (600 x 23) M
                Rapid Exit : 2
                Dimensi : 2 x (237,62 x 23) M
 • Apron                               
                F1 : 9   ( F1 = B-747, A-300, A-330, A-340, B-777)
                F2 : 4   ( F2 = DC-10, A-310, A-320, A-319, MD-11, B-767)
                F3 : 25 ( F3 = B-737, DC-9, Fokker-100, MD-82, MD-90)
                F4 : -   ( F4 = Fokker-50, Fokker-28, Fokker 27, Cassa-212, ATR-42, ATR-72)
                Luas Apron : 269.367 M²
 •            Apron Cargo : Gabungan dengan pesawat penumpang
 •            Fire Fighting Category : Cat – IX
 •            Helipad : 675 M²
 •            Lahan GSE : 24.490 M²

Fasilitas Sisi Darat
  
 •            Terminal Penumpang Internasional : 65.898,5 M²
 •            Terminal Penumpang Domestik : 14.791,86 M²
 •            Parkir Kendaraan :               51.348  M²
 •            VIP I : 633 M²
 •            VIP II  : 400 M²
 •            Cargo International Area  : 3.708 M²
 •            Cargo Domestik Area : 2.574 M²
 •            Inflight Catering : 5.720 M² (PT. Angkasa Citra Sarana / ACS)
 •            Inflight Catering II : 3.040 M² (PT. Jasapura Angkasa Boga)
 •            Aircraft Refueling Capacity :  (PT. Pertamina (Persero))
                3 Buah Tangki Pendam  : 6.481.000 liter
                3 Buah Tangki Pendam  : 13.528.000 liter
 •            Fasilitas Search&Rescue (SAR)  :  Tersedia
 •            Trolley : Tersedia 

Landasan – taxi
Beberapa “landasan - taxi – keluar” dan “landasan - taxi - sejajar” dengan konstruksi aspal dan beton meningkatkan kapasitas landasan pacu.


Pelataran Parkir Pesawat

Kapasitas Pelataran Parkir Pesawat adalah 7 posisi pesawat kelas B 747-400,6 posisi pesawat kelas A 320, dan 25 posisi untuk kelas B 737, (dalam waktu bersamaan).


Helipad

Untuk pendaratan helikopter, tersedia tiga buah helipad.

Depot Pengisian Bahan Bakar Pesawat Udara (DPPU).
Tersedia fasilitas DPPU dengan kapasitas simpan 6.540 kiloliter yang dioperasikan oleh Pertamina untuk pelayanan pengisian BBM bagi pesawat udara, baik dengan menggunakan hidran maupun kendaraan tanki, jenis bahan bakar avtur dan avigas.


Unit Pertolongan Kecelakaan

Tersedia Unit Pertolongan Kecelaka-an Penerbangan & Pemadam Kebakaran (PKP&PK) dengan peralatan yang lengkap sesuai dengan Katagori 9 menurut persyaratan ICAO.


Jasa Boga

Pelayanan jasa boga untuk keperluan penerbangan, tersedia dengan kapasitas 10.000 makanan perhari, dikelola oleh Aerowisata Catering Service.

Instansi Pendukung Operasional Bandara
- Bea Cukai
   Kantor Pelayanan : 5.648 M2
   Kantor wilayah      : 4.087 M2
- Kantor Imigrasi      : 2.681 M2
- Balai Karantina Ikan : 397 M2
- Balai Karantina Tumbuhan : 637 M2
- Balai Karantina Hewan : di Gedung GOI
- KP3U : di Gedung GOI
- Kantor Kesehatan Pelabuhan : 2.112 M2
- Kantor Pos : 1.277 M2  

FASILITAS PELAYANAN PENUMPANG
Terminal Domestik

Gedung Terminal Domestik melayani 1.372.320 penumpang per tahun dan memiliki 35 buah counter check in lengkap dengan timbangan elektronik serta conveyor bagasi. Bagi para penumpang yang menunggu waktu keberangkatan tersedia ruang boarding yang berkapasitas total  2.118 orang.
Penumpang yang baru datang dapat mengambil bagasinya di Ruang Pengambilan Bagasi Domestik yang mempunyai dua unit conveyor bagasi type L.





Terminal Internasional

Gedung Terminal Internasional dengan nuansa arsitektur Bali, terdiri dari Terminal Keberangkatan dan Terminal Kedatangan yang dipisah-kan oleh Plaza Festival. Kapasitas Terminal ini dapat melayani 4.938.840  penumpang per tahun. Ruang check-in dimana penumpang melaporkan keberangkatan mempu-nyai 62 buah counter check-in yang dilengkapi dengan timbangan elek-tronik serta conveyor bagasi. Bagi penumpang yang menunggu waktu keberangkatan disediakan  Ruang Tunggu dan Pintu Boarding seba-nyak 9 buah, masing-masing dileng-kapi dengan garbarata (aviobridge) disertai fasilitas sistem pemarkiran pesawat otomatis. Total kapasitas Ruang Boarding adalah 3.175  penumpang. Ruang pengambilan Bagasi dilengkapi dengan conveyor sebanyak 146 buah serta timbangan sebanyak 62 unit.


Ruang Tunggu Kelas Utama
Bagi penumpang kelas utama tersedia Ruang Tunggu khusus baik di Terminal Domestik dan Terminal Internasional dengan kapasitas 1.573 penumpang. 


Pertokoan dan Restaurant

Bagi para penumpang dan pengantar tersedia restaurant dan snack bar yang menyediakan makanan serta minuman dalam berbagai macam menu.
Sebelum masuk ke Ruang Boarding para penumpang dapat berbelanja di Ruang Keberangkatan/Transit dimana terdapat sejumlah toko bebas bea dan ada yang terletak di luar terminal, toko cinderamata, toko buku, toko batik dan lain-lain.



Bank dan penukaran valuta asing

Beberapa bank dan tempat penukaran valuta asing yang dikelola oleh perusahaan milik negara dan swasta tersedia bagi yang memerlukan.


Telepon

Fasilitas telepon disediakan dalam bentuk telepon coin, telepon chip, telepon bebas bea dan telepon collect call.

Taksi dan kendaraan sewa

Penumpang yang ingin menggunakan taksi atau menyewa kendaraan dapat memesannya di counter yang tersedia di Terminal Kedatangan.


Hotel dan penerangan pariwisata

Untuk kemudahan penumpang tersedia counter pemesanan hotel dan penerangan tentang pariwisata Bali.


Plaza Festival

Tarian dan penyambutan kepada penumpang-penumpang khusus dapat diselenggarakan di Plaza Festival yang terletak diantara Terminal Keberangkatan dengan Terminal Kedatangan Internasional.


Gedung Kargo

Pengiriman kargo dilayani di Gedung Kargo Internasional yang terpisah letaknya.


Tempat Parkir Kendaraan

Dapat menampung 89 bus, 153 taksi, 961 kendaraan pribadi roda empat dan 711 kendaraan roda dua.


FASILITAS PELAYANAN PENERBANGAN



Pengawasan Lalu Lintas Udara Area Control Center(ACC) Bali dibagi 3(tiga) sektor  :

A. Bali West Control, meliputi posisi 1140 E - Semarang pada ketinggian antara 18.000 kaki - 46.000 kaki dikontrol sepenuhnya dengan radar dan non radar, radio komunikasi frekuensi 123,9  MHZ, pemancarnya terletak di Surabaya.
Approach Control Office (APP) 
B. Bali Centre Control, posisi 1140 E ketinggian  18.000 kaki – 46.000 kaki. Frekuensi 120.7 MHZ.
C. Bali East Control, meliputi posisi 1140 E - batas Indonesia dengan Australia pada ketinggian 18.000 kaki - 46.000 kaki dikontrol dengan radar dan juga tanpa radar (procedure) frekuensi 128.3 MHZ, pemancarnya terletak di Kintamani dan Waingapu.


Melaksanakan pengontrolan area pada radius 10 - 60 NM dengan ketinggian 2.500 sampai dengan 19.000 kaki. Pengaturan lalu lintas udara dengan mendeteksi obyek melalui layar radar.Approach Control Office (APP) 


Aerodrome Control Tower (ADC) Mempunyai radius pengontrolan 0 - 5 NM (DVOR - BALI sebagai titik 0) pada ketinggian 0 - 2.500 kaki. Pengaturan dilakukan dengan cara melihat obyek/pesawat secara visual.


Fasilitas Komunikasi 
Terdapat 3 (tiga) fasilitas komunikasi penerbangan di Bandara yaitu :
a.    Hubungan Tetap Penerbangan (AFS)
b.    Hubungan Bergerak Penerbangan (AMS)
c.    Pelayanan Informasi Terminal Otomatis(ATIS)



ALAT BANTU NAVIGASI

Secara garis besar alat-alat bantu navigasi udara di Bandara terdiri dari :

=>    N D B
=>    DVOR/DME ENROUTE
=>    ILS terdiri dari :
         Localizer, Glide Path dan Marker Beacon.
=>    DME  terminal
=>    RADAR terdiri dari :
         Primary Surveillance Radar dan Secon-dary Surveillance Radar.
=>    Sistem Lampu :
         ➢    Lampu landasan-pacu, lampu taxiway dan Precision Approach Path Indicator (PAPI). 
               Lampu pendekatan dan SFL.
         ➢    Suar Berotasi (Rotating Beacon).
         ➢    Lampu Threshold, Runway End Identifi-cation Light (REIL).



UTILITAS

Listrik 
Catu daya listrik utama adalah dari PLN sebesar 10.380 KVA sebagai cadangan tersedia 15 unit diesel genset otomatis.


Air 

Sebagai sumber air adalah beberapa sumur bor dengan kedalaman menengah dan kapasitas total 200 m3/jam.


Telepon

Tersedia 750 saluran telepon untuk hubungan intern Bandar Udara maupun ke luar bandar udara.


Interkom

Ruangan-ruangan di terminal yang memerlukan tingkat komunikasi tinggi untuk operasi/pelayanan penumpang disediakan 78 saluran.


Alat Pengolah Air Limbah

Air kotor dari terminal dan tempat-tempat lain dialirkan menuju alat pengolah air limbah untuk diolah sehingga memenuhi syarat untuk dibuang ke saluran terbuka.


Alat Pembakar Sampah

Alat yang memiliki kapasitas pembakaran 2 m3/jam ini digunakan untuk membakar sampah dari Terminal dan dari pesawat udara dengan suhu bakar yang tinggi sehingga meminimalkan pencemaran lingkungan.



Peralatan Audio Visual

Informasi mengenai kedatangan dan keberangkatan pesawat terbang ditampilkan melalui layar televisi dan Flap Board serta LED display. Peralatan ini terpasang pada lokasi public hall serta di dalam ruang terminal keberangkatan maupun kedatangan.
Di samping itu juga diumumkan dengan suara melalui peralatan PAS (Public Address System).


Source : http://baliairport.ngurahrai-airport.co.id



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sejarah Bandara Internasional Ngurah Rai


Ngurah Rai International Airport

-Sejarah-

Berawal dari Tuban 
       Bandar Udara Ngurah Rai dibangun tahun 1930 oleh Departement Voor Verkeer en Waterstaats (semacam Departemen Pekerjaan Umum).  Landas pacu berupa airstrip sepanjang 700 M dari rumput di tengah ladang dan pekuburan di desa Tuban. Karena lokasinya berada di Desa Tuban, masyarakat sekitar menamakan airstrip ini sebagai Pelabuhan udara Tuban. Tahun 1935 sudah dilengkapi dengan peralatan telegraph dan  KNILM (Koninklijke Nederlands Indische Luchtvaar Maatschappij) atau Royal Netherlands Indies Airways mendarat secara rutin di South Bali, yang merupakan nama lain dari Pelabuhan Udara Tuban.

                        
Pelabuhan Udara Tuban 
        Tahun 1942 Airstip South Bali dibom oleh Tentara Jepang, yang kemudian dikuasai untuk tempat mendaratkan pesawat tempur dan pesawat angkut mereka. Airstrip yang rusak akibat pengeboman diperbaiki oleh Tentara Jepang dengan menggunakan Pear Still Plate (sistem plat baja).
Lima tahun berikutnya 1942-1947, airstrip mengalami perubahan. Panjang landas pacu menjadi 1200 meter dari semula 700 meter. Tahun 1949 dibangun gedung terminal dan menara pengawas penerbangan sederhana yang terbuat dari kayu. Komunikasi penerbangan menggunakan transceiver kode morse.


Pelabuhan Udara Internasional Tuban 
       Untuk meningkatkan kepariwisataan Bali, Pemerintah Indonesia kembali membangun gedung terminal internasional dan perpanjangan landas pacu kea rah barat yang semula 1200 meter menjadi 2700 meter dengan overrun 2 x 100 meter. Proyek yang berlangsung dari tahun 1963-1969 diberi nama Proyek Airport Tuban dan sekaligus sebagai persiapan internasionalisasi Pelabuhan Udara Tuban.
Proses reklamasi pantai sejauh 1500 meter dilakukan dengan mengambil material batu kapur yang berasal dari Ungasan dan batu kali serta pasir dari Sungai Antosari – Tabanan.
Seiring selesainya temporary terminal dan runway pada Proyek Airport Tuban, pemerintah meresmikan pelayanan penerbangan internasional di Pelabuhan Udara Tuban, tanggal 10 Agustus 1966.


Pelabuhan Udara Internasional Ngurah Rai
       Penyelesaian Pengembangan Pelabuhan Udara Tuban ditandai dengan peresmian oleh Presiden Soeharto pada tanggal 1 Agustus 1969, yang sekaligus menjadi momen perubahan nama dari Pelabuhan Udara Tuban menjadi Pelabuhan Udara Internasional Ngurah RAI (Bali International Airport Ngurah Rai.
Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang dan kargo, maka pada tahun 1975 sampai dengan 1978 Pemerintah Indonesia kembali membangun fasilitas-fasilitas penerbangan, antara lain dengan membangun terminal internasional baru. Gedung terminal lama selanjutnya dialihfungsikan menjadi terminal domestic, sedangkan terminal domestic yang lama digunakan sebagai gedung cargo, usaha jasa catering dan gedung serba guna.


Pengembangan fasilitas Bandara dan Keselamatan Penerbangan (FBUKP) Tahap I
       Proyek FBUKP tahap I (1990 – 1992)  meliputi Perluasan Terminal yang dilengkapi dengan Aviobridge, perpanjangan landas pacu menjadi 3000 meter, relokasi taxiway, perluasan apron, renovasi dan perluasan gedung terminal, perluasan pelataran parkir kendaraan, pengembangan gedung kargo, gedung operasi serta pengembangan fasilitas navigasi udara dan fasilitas catu bahan bakar pesawat udara.

Pengembangan fasilitas Bandara dan Keselamatan Penerbangan (FBUKP) Tahap II
       Proyek FBUKP tahap II (1998-2000), pengembangan bandara dikerjakan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, antara lain dengan memanfaatkan hutan bakau seluas 12 Ha untuk digunakan sebagai fasilitas keselamatan penerbangan.

Pengembangan fasilitas Bandara dan Keselamatan Penerbangan (FBUKP) Tahap III
      Rencana Proyek FBUKP tahap III meliputi Pengembangan Gedung Terminal, Gedung Parkir, dan Apron. Luas terminal domestik saat ini hanya akan dikembangkan hingga total luasnya mencapai 12.000 m yang nantinya akan digunakan sebagai terminal internasional. Adapun eksisting terminal internasional akan dialihfungsikan menjadi terminal domestic. Dengan kondisi tersebut, Bandara Ngurah Rai akan mampu menampung hingga 25 juta penumpang.

By : Anggoro Irianto ( http://anggoroinc.blogspot.com) 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS